HUBUNGAN ANTARA BID’AH DENGAN MAKSIAT

September 4, 2017

Oleh
Muhammad bin Husain Al-Jizani
Bagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2

A. Kesamaan Bid’ah Dengan Maksiat.

[1]. Keduanya sama-sama dilarang, tercela dalam syari’at, dan pelakunya mendapat dosa. Maka sesungguhnya bid’ah masuk di dalam kemaksiatan [lihat Al-Itisham 2/60]. Dengan tinjauan ini, setiap bid’ah adalah maksiat, tapi tidak setiap maksiat adalah bid’ah.

[2]. Keduanya bertingkat-tingkart, bukan satu tingkatan saja, karena –menurut kesepakatan ulama- maksiat itu terbagi dalam kemaksiatan yang bisa membuat pelakunya kafir, dan kemaksiatan yang sifatnya kaba’ir (dosa-dosa besar) dan shagha’ir (dosa-dosa kecil) [lihat Al-Jawaabul Kaafi 145-150], begitu juga bid’ah terbagi menjadi.

-Bid’ah yang membuat pelakunya kafir
-Bid’ah yang sifatnya kaba’ir
-Bid’ah yang sifatnya shaga’ir [1]

[3]. Keduanya memberikan indikasi akan lenyapnya syari’at dan hilangnga sunnah. Semakin banyak maksiat dan bid’ah maka makin lemahlah sunnah. Semakin kuat dan tersebarnya sunnah, maka semakin lemahlah maksiat dan bid’ah. Maksiat dan bid’ah -ditinjau dari ini- sama-sama menghempaskan al-hudaa (ajaran yang benar) dan memadamkan cahaya kebenaran. Keduanya berjalan beriringan. Hal itu akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya.

[4]. Keduanya bertentangan dan bersebarangan dengan maqaashidusysyarii’ah (tujuan-tujuan syari’at) yang berakibat fatal yaitu, menghancurkan syari’at.

[Disalin dari kitab Qawaa’id Ma’rifat Al-Bida’, Penyusun Muhammad bin Husain Al-Jizani, edisi Indonesia Kaidah Memahami Bid’ah, Penerjemah Aman Abd Rahman, Penerbit Pustaka Azzam, Cetakan Juni 2001]
_________
Foote Note
[1]. Pembagian dan pengklasifikasian ini bisa benar jika sebagian bid’ah dinisbatkan pada sebagian yang lain. Maka jika seperti ini, dimungkinkan keadaannya beritngkat-tingkat, karena kecil dan besar berada dalam penyandaran dan penisbatan, terkadang sesuatu dianggap besar dengan sendirinya, tapi bisa dianggap kecil jika dibandingkan dengan yang lebih besar darinya. Oleh sebab itu, sesungguhnya shigharul bida (bid’ah-bid’ah kecil) pada hakikatnya –dianggap sebagai baigan al-kaba’ir dan bukan ash-shaga’ir (dosa-dosa kecil), ini jika dibandingkan dengan dosa-dosa lain selain syirik. Lihat Al-I’tisham 2/57-62. Lebh jelasnya akan ada dalam point berikutnya

Sumber: https://almanhaj.or.id/1202-hubungan-antara-bidah-dengan-maksiat.html

Iklan

Takbiran Setelah Shalat Fardhu

September 4, 2017

assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
ustadz, apakah boleh takbiran dijadikan dzikir setiap ba’da shalat fardhu ?
hal inilah yang terjadi di lingkungan saya saat ini, apabila setelah selesai shalat fardhu mereka melantunkan takbiran secara berjama’ah sebelum berdzikir. takbiran ini dilantunkan sampai hari tasyrik.
mohon penjelasannya.
syukron.
wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa:
Saya mendengar masyarakat pada hari tasyriq bertakbir setiap selesai shalat hingga shalat ashar pada hari ketiga, apakah mereka benar atau tidak?

Mereka menjawab:
Disyariatkan bertakbir secara mutlak dan muqayyad pada Idul Adha. Takbir mutlaq dilaksanakan setiap saat dari mulai masuknya bulan Dzul Hijjah hingga berakhirnya hari tasyriq. Adapun takbir muqayyad itu dilaksanakan setiap selesai shalat fardhu, dimulai pada shalat shubuh hari Arafah hingga shalat Ashar pada hari terakhir tasyriq. Pensyariatan ini didasari oleh Ijma’ dan perbuatan sahabat radhiyallahu anhum. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 8/312 no. 10777

Meski demikian yang disyariatkan adalah berdzikir setelah shalat terlebih dahulu kemudian bertakbir. Itupun tidak dilakukan secara berjama’ah dan menggunakan pengeras suara.

Syaikh Utsaimin pernah ditanya tentang hukum takbir berjama’ah setelah melaksanakan shalat melalui pengeras suara dan menara-menara masjid?

Beliau menjawab:
Bertakbir pada 10 hari Dzulhijjah tidaklah terbatas pelaksanaannya setelah shalat. Begitu pula pada malam Idul Fitri itu tidak terbatas pelaksanaannya pada saat selesai shalat. Mereka yang membatasi pelaksanaannya hanya pada saat selesai shalat perlu ditelaah ulang (pernyataannya), kemudian ketika mereka menjadikannya dalam bentuk berjama’ah juga perlu ditelaah ulang mengingat ini menyelisihi kebiasaan salaf. Dan ketika mereka mengumandangkan takbir melalui menara-menara masjid juga perlu ditelaah ulang. Tiga perkara ini seluruhnya perlu ditelaah. Yang disyariatkan ketika selesai shalat adalah membaca dzikir yang sudah dikenal, kemudain bila Anda selesai berdizikir silahkan bertakbir. Begitu pula disyariatkan supaya orang-orang tidak bertakbir bersama, akan tetapi setiap orang bertakbir sendiri-sendiri. Inilah yang disyariatkan sebagaimana di hadits Anas bin Malik radhiyallahu anhu mereka bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam saat haji , diatara mereka ada yang mengeraskan bacaan talbiah, sebagian lagi bertakbir, mereka tidak dalam satu bentuk. Majmu’ Fatawa wa Rasail al-Utsaimin 16/261

والله تعالى أعلم بالحق والصواب

SUMBER : http://www.salamdakwah.com/baca-pertanyaan/takbiran-dijadikan-dzikir.html

 


Berhias dengan Malu

Agustus 11, 2017

Oleh: Abu Umar Al Bankawy

Malu adalah sifat pada diri seseorang yang akan membawa dirinya untuk melakukan tindakan yang menghiasi dan membuat karakternya menjadi indah serta meninggalkan perkara yang akan mengotori dan membuat jelek karakternya.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَمَا كَانَ الحَيَاءُ فِي شَيْءٍ إلاَّ زَانَهُ

“Tidaklah ada sifat malu itu pada sesuatu, melainkan ia akan menghiasinya.” (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani)

Dari Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,

الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ

“Sifat malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

وفي رواية لمسلمٍ : (( الحياءُ خَيْرٌ كُلُّهُ )) أَوْ قَالَ : الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ

“Sifat malu itu baik seluruh akibatnya.” Atau beliau shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda, “Malu itu semuanya baik akibatnya.”

Maka kita dapati seseorang yang memiliki sifat pemalu apabila dia akan melalukan perkara yang haram atau meninggalkan perkara yang wajib maka dia akan malu terhadap Allah ‘azza wajalla. Dan jika akan melakukan sesuatu yang menyelisihi muru’ah, norma-norma yang berlaku di masyarakat, atau meninggalkan perkara yang sudah sepantasnya dia lakukan, maka dia akan merasa malu terhadap manusia.

 

Sebaliknya orang yang tidak memiliki rasa malu maka dia akan mengerjakan segala sesuatu yang dia inginkan meski perkara tersebut bertentangan dengan syariat Allah maupun bertentangan dengan muru’ah.

Dari Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya sebagian ajaran yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah: ‘Bila kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. Al Bukhari)

Hakikat Malu

Al Imam An Nawawi menjelaskan bahwa para ulama berkata,

“Hakikat sifat malu itu ialah suatu budi pekerti yang menyebabkan seorang itu meninggalkan apa-apa yang buruk dan menyebabkan ia tidak lengah untuk menunaikan haknya seorang yang mempunyai hak.”

Beliau melanjutkan,

“Kami meriwayatkan dari Abul Qasim al Junaid rahimahullah, beliau berkata,

‘Malu ialah perpaduan antara melihat berbagai macam kenikmatan atau karunia dan melihat adanya kelengahan, lalu tumbuhlah di antara kedua macam sifat yang di atas tadi suatu keadaan yang dinamakan sifat malu’.” (Riyadhus Shalihin)

Malu adalah Cabang Keimanan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,

 الإيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً : فَأفْضَلُهَا قَوْلُ : لاَ إلهَ إِلاَّ الله ، وَأدْنَاهَا إمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ ، وَالحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإيمَانِ

“Keimanan itu ada tujuh puluh sekian cabang atau keimanan itu ada enam puluh sekian cabang. Seutama-utamanya ialah ucapan La ilaha illallah dan serendah-rendahnya ialah menyingkirkan gangguan dari jalan dan malu itu adalah cabang dari keimanan.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma,

أنَّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الأنْصَار وَهُوَ يَعِظُ أخَاهُ في الحَيَاءِ ، فَقَالَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – : (( دَعْهُ ، فَإنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الإيمَانِ )) متفقٌ عَلَيْهِ

Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berjalan melalui seorang lelaki dari golongan kaum Anshar dan ia sedang menasihati saudaranya tentang hal sifat malu. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda, “Biarkanlah ia, sebab sesungguhnya sifat malu itu termasuk dari keimanan.” (Muttafaq ‘alaih)

Kenapa malu disebut sebagai salah satu cabang keimanan? Hal ini dengan rasa malu yang ada pada dirinya seseorang akan malu apabila meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Allah serta malu pula untuk melanggar apa yang dilarang oleh Allah subhanahu wata’ala.

Sifat Malu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

كَانَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أشَدَّ حَيَاءً مِنَ العَذْرَاءِ في خِدْرِهَا ، فَإذَا رَأَى شَيْئاً يَكْرَهُهُ عَرَفْنَاهُ في وَجْهِه

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu lebih pemalu daripada seorang gadis pingitan. Jikalau beliau shallallahu ‘alaihi wasallam melihat sesuatu yang tidak disenangi, maka kita dapat melihat itu tampak di wajahnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Gadis dalam pingitan adalah gadis yang sangat pemalu, ini karena dia belum pernah menikah dan tidak pernah bergaul dengan lelaki.  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lebih pemalu dari gadis pingitan seperti ini.  Apabila melihat sesuatu yang tidak beliau senangi, beliau tidak reaktif, akan tetapi ketidaksukaan beliau hanya nampak dengan perubahan pada wajah beliau.

Malu yang Tercela

Sifat malu yang ada pada diri seseorang, hendaknya tidaklah menghalangi seseorang untuk bertafaqquh fiddin, belajar dan bertanya tentang permasalahan agama yang dia butuhkan.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ لَمْ يَمْنَعْهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِي الدِّينِ

“Sebaik-baiknya wanita adalah wanita Anshar. Rasa malu tidaklah menghalangi mereka untuk bertafaqquh, memahami agama ini.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mereka membutuhkan penjelasan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mereka tidak malu untuk langsung bertanya, sebagaimana yang dilakukan oleh Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha.

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, beliau berkisah,

أَنَّ أُمَّ سُلَيْمٍ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ اللهَ لَا يَسْتَحِي مِنَ الْحَقِّ هَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ غُسْلٌ إِذَا احْتَلَمَتْ قَالَ نَعَمْ إِذَا رَأَتِ الْمَاءَ

Ummu Sulaim datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi jika bermimpi?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ya, apabila ia melihat air (mani).” (Muttafaqun ‘alaihi)

Rasa malu yang menghalangi seseorang dari tafaqquh fiddin, memahami agama, bukanlah rasa malu yang terpuji. Sebaliknya rasa malu yang semacam ini adalah rasa malu yang tercela.

Dari Abu Waqid al-Harits bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu bahwasanya pada suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  sedang duduk dalam masjid beserta orang banyak. Lalu ada tiga orang yang datang.

Kedua orang itu berdiri di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun yang seorang, setelah ia melihat ada tempat yang lapang dalam majelis itu, lalu terus duduk di situ, sedang yang satu lagi duduk di belakang orang banyak, sedangkan orang ketiga terus menyingkir dan pergi.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  selesai beliau bersabda,

“Tidakkah engkau semua suka kalau saya memberitahukan perihal tiga orang? Adapun yang seorang (yang melihat ada tempat lapang terus duduk di situ – pent), maka ia menempatkan dirinya kepada Allah, kemudian Allah memberikan tempat padanya. Adapun yang lainnya (yang duduk di belakang orang banyak – pent), ia adalah malu, maka Allah pun malu padanya, sedangkan yang seorang lagi (yang menyingkir dari majelis – pent), ia memalingkan diri, maka Allah juga berpaling dari orang itu.” (Muttafaq ‘alaih)

Demikianlah sedikit pembahasan tentang malu. Semoga bisa bermanfaat. Wallahu ta’ala a’lam bishshawab.

Referensi:

 

– Syarah Riyadhis Shalihin, Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin 


Adab berkunjung dan meminta izin

Agustus 11, 2017

1. Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

فَإِن لَّمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّىٰ يُؤْذَنَ لَكُمْ ۖ وَإِن قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا ۖ هُوَ أَزْكَىٰ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

لَّيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ مَسْكُونَةٍ فِيهَا مَتَاعٌ لَّكُمْ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ

“ Hai orang – orang yang beriman , janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izi dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu ( selalu) ingat. Jika kamu tidak menemui seorang pun didalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapatkan izin. Dan jika dikatakan kepadamu : “ kembali ( saja)lah maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.” (An Nuur : 27-29)

2. ini adalah adab-adab syar’i yang Allah telah mengajarkan hamba-Nya dengan adab tersebut, yaitu meminta izin. Allah memerintahkan mereka untuk tidak masuk rumah selain rumah mereka sampai mereka dipersilahkan yaitu meminta izin sebelum masuk dan mengucapkan salam setelahnya. Dan hendaknya meminta izin sebanyak tiga kali, apabila diizinkan. Kalau tidak maka harus kembali.

Sebagaimana hadist dalam kitab Shahih, bahwasannya Abu Musa ketika izin kepada Umar tiga kali, tetapi belum di izinkan untuknya dia pulang. Kemudian Umar berkata :” Apakah kalian tidak mendengar suara Abdullah bin Qais meminta izin? Izinkanlah ia : “ maka mereka mencari Abu Musa tetapi Abu Musa telah pergi. Ketika dia datang setelah itu, Umar bertanya : “ Apa yang menyebabkanmu kembali? Dia menjawab : “saya telah meminta izin tiga kali dan belum diizinkan untukku. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda :

“ Apabila kalian telah meminta izin tiga kali dan belum diizinkan maka kembalilah.” [ Muttafaqun’alaih].

Maka Umar berkata “ kamu harus mendatangkan saksi kepadaku ( tentang hadist tersebut-pent). Kalau tidak aku akan memukulmu.

Maka Abu Musa pergi kepada sekelompok orang Anshor dan dia menyebutkan kepada mereka perkataan Umar. Maka mereka menyatakan :” tidak perlu menjadi saksi bagimu,kecuali orang yang paling kecil diantara kami ( maksudnya perkara ini telah di ketahui sampai anak – anak, pent). Maka Abu Sa’id memberikan hadist kepada Umar dengan yang seperti itu. Maka Umar berkata : “ telah melalaikanku jual beli di pasar-pasar daripada hadist ini “ [ Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 3/278]

Faedah dari ayat dan hadist tersebut :

1. orang yang mengunjungi tidak boleh masuk rumah sebelum meminta izin dari pemilik rumah dan sebelum mendapat sambutan dan dipersilahkan untuk masuk.

2. orang yang mengunjungi harus mulai mengucapkan salam dari yang dikunjungi dengan mengatakan Assalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Firman Allah Ta’ala :

فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً ۚ

“ Maka apabila kamu memasuki ( suatu rumah dari ) rumah – rumah ( ini) hendaklah kamu memberi salam kepada ( penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri. Salam kepada mereka, salam yang di tetapkan dari sisi Allah, yang di beri berkat lagi baik.” [ An Nuur : 61]

3. Mujahid berkata : apabila kamu masuk masjid maka katakanlah : “ Semoga keselamatan atas Rasulullah” , dan apabila kamu masuk kepada keluarga maka ucapkan salam kepada mereka, apabila masuk ke rumah yang tidak ada orangnya maka katanlah :

Assalamu’alainaa wa’ala ‘ibaadillahish sholikhin

“ semoga keselamatan atas kami dan atas hamba-hama Allah yang shalih”

Qatadah menambahkan : sesungguhnya para malaikat menjawab salam tersebut. [lihat Tafsir Ibnu Katsir : 3/05]

Tidak ada perbedaan lafazh untuk laki-laki dan perempuan.

4. Tidak boleh bagi wanita untuk masuk ke rumah seorang tanpa izin sebagaimana kebiasaan sebagain mereka. Karena bisa jadi ada laki-laki sendirian di dalam rumah atau ada laki-laki yang sedang tidur.

5. Jauhilah untuk membiasakan istri dan anak-anakmu berdusta. Misalkan kamu nasehati mereka agar ketika pintu diketuk mereka mengatakan : “ tidak ada “ padahal kamu berada di rumah, apabila karena sibuk dan tidak bisa menemui atau keluar sepantasnya meminta maaf. Yang seperti itu lebih baik di dunia dan akherat. Firman Allah Subhanahuwata’la :

وَإِن قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا ۖ هُوَ أَزْكَىٰ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“ dan jika dikatakan kepadamu : “ kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih baik bersih bagimu. “ [ An Nuur : 28]

6. tidak boleh bagi orang yang mengunjungi untuk memandang ke dalam rumah  ketika meminta izin, karena izin itu diisyaratkan karena sebab pandangan. Rasulullah bersabda :

“ siapa yang memandang ke dalam rumah suatu kaum tanpa izin mereka, maka telah halal bagimu tersebut untuk mecongkel matanya” [HR. Muslim]

Dan dahulu, apabila Nabi mendatangi pintu suatu kaum beliau tidak mengadap ke pintu persis depannya, namun ke pojok kanan atau kiri dan mengatakan “Assalammu’alaikum, assalammu’alaikum [ Hadist shahih riwayat Ahmad]

7. jangan kamu masuk ke rumah yang pemiliknya tidak ada di dalam rumah atau salah satu anak yang laki-laki yang dewasa, berdasarkan firman Allah Ta’ala :

فَإِن لَّمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّىٰ يُؤْذَنَ لَكُمْ

“ jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapatkan izin.” [An Nuur : 28]

Dan tidak dianggap izinnya dari perempuan yang bukan mahramnya seperti istrinya, anak perempuan paman ataupun istri suadaranya.

8. Wajib meminta izin masuk ketika mengunjungi kerabat seperti rumah pamanmu, saudaramu, bahkan termasuk sunnah adalah kamu meminta izin kepada sudara-saudara perempuanmu. Ibny Juraij berkata : “ saya mendengar ‘Atha bin Abi Rabbah di beri kabar dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata tiga ayat yang manusia menolaknya adalah firmannya :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“ Hai manusia sesungguhnya kam menciptakan kamu dan seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenall [Al Hujurat : 13]

Atha’ berkata : saya katakan : apakah saya meminta izin kepada saudara-saudara perempuanku agar anak-anak yatim dalam asuhanku bersama saya dalam satu rumah? Ibnu Abbas menjawab : ya kemudian pertanyaan itu saya ulang  agar dia memberikan rukhshoh ( keringanan ) kepada saya tetapi dia enggan dan berkata : apakah kamu ingin melihatnya dalam keadaan tidak memakai baju? Saya menjawab : tidak, dia berkata : mintalah izin .

Adapun istri saudara, paman dari pihak bapak atau ibu, dan saudari istri, maka tidak boleh berkhalwat ( berduan ) dengan salah seorang dari mereka dalam satu rumah, tidak boleh pula melihat mereka dalam kedaan terbuka atau berhias. Rasulullah bersabda :

“ hati – hatilah kalian untuk masuk kepada wanita”

Maka seorang laki – laki anshor berkata: “ wahai Rasulullah, bagiamana pedapat engku tentang ipar?Rasul menjawab : “ Ipar adalah maut “

9. Apabila kamu masuk kerumah maka ucapkanlah salam kepada keluargamu, dan ajarilah mereka dengan suaraamu sebelum kamu masuk berdasarkan perkataan Jabir bin Abdullah :

“ apabila kamu masuk kepada keluargamu maka ucapkanlah salam kepada mereka, salam yang di tetapkan dari sisi Allah, yang di berkahi lagi baik.

10. biasakanlah anak-anakmu semenjak kecil meminta izin ketika mereka masuk ke rumah-rumah selain mereka masuk ke rumah-rumah selain mereka walaupun termasuk kerabat.

11. sangat baik apabila kunjunganmu sebentar saja, karena bisa jadi pemilik rumah sedang mempunyai janji atau sedang sibuk. Allah berfirman kepada kaum mukminin.

فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنكُمْ ۖ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ

“ dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu ( untuk menyuruh kamu keluar) dan Allah tidak malu ( menerangkan yang) yang benar. “ ( Al Ahzab : 53)

12. orang yang mengunjungi walaupun buta harus tetap meminta izin sebagaimana yang lain agar para wanita berhijab darinya dan berkhalwat dengannya tetap haram. Dari Ummu Salamah, dia berkata : saya pernah berada di sisi Nabi dan juga Maimunah. Maka datanglah Ibnu Ummi Maktum sampai masuk menemui beliau, dan ketika itu setelah kita diperintahkan untuk berhijab. Maka Rasulullah bersabda :

“ berhijablah kalain berdua darinya”. Maka kami katakan : wahai Rasulullah  bukankah dia buta, tidak melihat kami dan kami tidak akan melihat? Beliau menjawab : apakah kalian berdua buta? Bukankah kalian melihatnya? [HR At Tirmidzi, dan Ibnu Hajar berkata : Isnadnya kuat]

13. tidak boleh melihat hijab atau surat saudaranya tanpa izin, karena bisa jadi ada didalamnya  yang bersifat rahasia

( diambil dari buku , Kiat Sukses Mendidik Anak, Pustaka Al Haura’)


HUKUM MEROKOK DAN ANJURAN MENASEHATI ORANG-ORANG YANG MEROKOK DENGAN LEMAH LEMBUT.

Agustus 11, 2017

——————————
Fadhilatus Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh.
Pertanyaan:

Tidak tersamarkan sebarapa jauh penyebaran rokok yang haram tersebut di setiap tempat kerja, dan di rumah, di tempat-tempat umum, pertanyaan: apakah boleh duduk bersama mereka? Dan apabila perokok ada di rumah Anda, atau berada di tempat umum, maka apakah Anda akan meninggalkannya atau Anda akan keluar?

Jawaban:
Sebagaimana dikatakan oleh saudara tersebut bahwa rokok adalah haram; berdasarkan dalil yang umum akan keharamannya, dan dia tidak ada nash (teks) khusus dari Rosul; dikarenakan rokok belum ada kecuali belakangan ini, akan tetapi kaidah-kaidah syari’at bersifat umum, dan isyarat pada sebagian nash-nash yang menunjukkan kepada keharamannya memutuskan akan keharamannya, apabila di sebelah Anda ada perokok, dan dia ingin merokok, maka nasehati dia dengan lemah lembut.

Katakan kepadanya: wahai saudaraku! Ini adalah haram dan tidak halal bagi Anda.

Dan menurut perkiraanku jika Anda menasehatinya dengan lemah lembut, niscaya dia akan mencela, sebagaimana yang dialami oleh selain kita dan kami juga telah mengalaminya, jika dia tidak mau berhenti dari rokoknya, maka yang wajib bagi Anda ialah berpisah dengannya, berdasarkan firman Alloh Ta’ala:

(وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ ۗ ) [سورة النساء : 140]

” Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.” [Qs. An-Nisaa: 140]

Akan tetapi ini tempat-tempat umum, adapun jika berada di tempat kerja, dan Anda telah menasehatinya, namun dia tidak mau berhenti, maka di saat itu tidak mengapa Anda tetap tinggal; karena itu adalah darurat, dan Anda tidak kuasa untuk menghindar darinya.
Dan apakah mungkin kita katakan: bahwa seorang lelaki apabila di dalam pasar ada wanita yang bersolek, dan para lelaki merokok, maka jangan Anda pergi ke pasar untuk memenuhi kebutuhan Anda? Kami tidak akan mengatakan demikian, berarti sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh manusia, dan itu terjadi pada tempat umum yang kita tidak dapat menghindar darinya -sekalipun di dalamnya terdapat kemaksiatan- maka tidak ada dosa bagi mereka dalam keadaan demikian, akan tetapi wajib baginya pertama-tama untuk menasehati pelaku maksiat tersebut, Mudah-mudahan Alloh memberikan hidayah melalui kedua tangannya.

Silsilah liqoat bab al-maftuh> liqoul bab maftuh [54]


MENATA HATI ( Bagian Pertama )

Agustus 11, 2017

بسم الله الرحمن الرحيم

MUQADDIMAH

الحمد لله رب العالمين ولي الصالحين والعاقبة للمتقين ولا عدوان إلا على الظالمين. ثم الصلاة والسلام على أشرف المرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»

Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” [HR. Muslim]

Wahai saudaraku –semoga Allah senantiasa merahmatimu–!

Hati memiliki kedudukan yang tinggi pada diri manusia. Allah Ta’ala tidaklah melihat kepada bentuk rupa kita dan tidak pula kepada harta kekayaan kita, akan tetapi yang Allah lihat hanyalah hati dan amalan kita. Baik atau buruknya amalan kita, tergantung baik atau tidaknya hati kita. Jika hati kita sakit atau mati –kita berlindung darinya– maka akan membuahkan amalan yang rusak pada diri kita. Sebaliknya jika hati kita sehat, bersih dan suci, maka akan membuahkan amalan yang baik pada diri kita.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ، صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ، فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ»

“Ketahuilah, bahwa dalam setiap tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka baik pula seluruh badannya, namun jika segumpal daging tersebut rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Jika hati tersebut baik, tidak ada padanya melainkan kecintaan dia kepada Allah dan kecintaan kepada hal-hal yang dicintai-Nya, padanya rasa takut kepada Allah dan takut terjatuh kedalam hal-hal yang Allah benci, maka akan baik pula gerakan (amalan) seluruh tubuhnya, akan membuahkan dari hati yang baik tersebut (kekuatan) untuk meninggalkan segala hal yang diharamkan. Dia mampu melindungi (dirinya) dari syubhat, waspada agar tidak terjatuh kedalam perkara yang diharamkan. Adapun jika hatinya rusak, hatinya dikuasai oleh hawa nafsu dan lebih mengikuti apa yang diinginkan nafsunya meskipun Allah membencinya, maka akan rusak pula amalan tubuhnya, mendorongnya untuk berbuat kemaksiatan dan melakukan hal-hal yang masih syubhat sesuai dengan hawa nafsunya.

Oleh karena itu, hati laksana raja bagi tubuh, sedangkan anggota tubuh adalah tentaranya, sehingga dia akan taat kepadanya (hatinya), anggota tubuhnya bangkit untuk mentaatinya dan menjalankan perintahnya, ia tidak menyelisihi perintahnya sedikit pun. Apabila rajanya baik, maka akan baik pula tentaranya, sebaliknya jika rajanya rusak, maka akan rusak pula tentaranya. Tidaklah ada yang bermanfaat disisi Allah melainkan hati yang bersih dan selamat.

{يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ}

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang salim (bersih).” [QS. Asy Syu’araa’: 88-89]

[Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 1/218-219]

Wahai saudaraku –semoga Allah senantiasa memulyakanmu–!

Sudahkah tertata hati kita? Sudahkah terisi dengan Iman dan Tauhid kepada Allah? Sudahkan kau jaga hatimu dari hal-hal yang dibenci dan dimurkai Allah?
Mari kita tata hati kita!
Mari kita jaga hati kita!

Mengingat pentingnya menata hati, maka pada kesempatan kali ini dengan memohon pertolongan kepada Allah dan taufiq-Nya, kami akan menulis sebuah risalah yang bertema “MENATA HATI”. Harapan kami, semoga risalah ini dapat membantu kita dalam menata hati dan bermuhasabah (introspeksi diri), agar hati ini menjadi hati yang salim, hati yang dicintai dan diridhai-Nya.

wa forum kis


Ikhlas dan Menghadirkan Niat dalam Semua Hal ( Bag.1)

Agustus 11, 2017

Allah berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan (memurnikan) ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Allah berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhoan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37)

Allah berfirman:

قُلْ إِن تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ

“Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 29)

وعن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب بن نفيل بن عبد العزى بن رياح بن قرط بن رزاح بن عدى بن لؤى ابن غالب القرشى العدوى‏.‏ رضي الله عنه، قال‏:‏ سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول‏:‏ ‏”‏ إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرىء ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها، أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه‏”‏ ‏(‏‏(‏متفق على صحته‏.‏ رواه إماما المحدثين‏:‏ أبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيرى النيسابورى رضي الله عنهما في صحيحهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة‏)‏‏)‏‏

[1] Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khaththab bin Nufail bin ‘Abdil ‘Uzza bin Riyah bin ‘Abdullah bin Qurth bin Razah bin ‘Adiy bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib Al-Qurasyiy Al-‘Adawiy ia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya setiap amalan disertai dengan niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang berhijrah karena dunia atau perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sebatas kepada sesuatu yang menjadi tujuannya.” (Hadits disepakati sahnya oleh dua imam para ahli hadits: Abu ‘Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari dan Abul Husein Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi dalam kitab keduanya yang merupakan kitab paling shahih (setelah Al-Qur’an- pen)

وعن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب بن نفيل بن عبد العزى بن رياح بن قرط بن رزاح بن عدى بن لؤى ابن غالب القرشى العدوى‏.‏ رضي الله عنه، قال‏:‏ سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول‏:‏ ‏”‏ إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرىء ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها، أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه‏”‏ ‏(‏‏(‏متفق على صحته‏.‏ رواه إماما المحدثين‏:‏ أبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيرى النيسابورى رضي الله عنهما في صحيحهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة‏)‏‏)‏‏

[2] Dari Ummul Mukminin Ummu ‘Abdullah ‘Aisyah, ia berkata: Rasulullah bersabda:

“Ada sekelompok pasukan yang akan menyerang Ka’bah, namun ketika mereka sampai di tanah lapang yang gersang mereka ditenggelamkan dari yang paling depan sampai yang paling belakang”. ‘Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana mereka ditenggelamkan dari yang paling depan sampai yang paling belakang, padahal di antara mereka ada orang awwam dan ada pula orang yang bukan dari golongan mereka?” Beliau menjawab: “Mereka akan ditenggelamkan dari yang paling depan sampai yang paling belakang, kemudian mereka akan dibangkitkan sesuai niatnya masing-masing.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim. Ini lafazh al-Bukhari)

 {}- وعن عائشة رضي الله عنها قالت قال النبي صلى الله عليه وسلم‏:‏ ‏”‏ لا هجرة بعد الفتح، ولكن جهاد ونية، وإذا استفرتم فانفروا‏”‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏‏.‏ ‏‏ومعناه‏:‏ لا هجرة من مكه لأنها صارت دار إسلام

[3] Dari ‘Aisyah, ia berkata: Nabi bersabda:

“Tidak ada hijrah lagi setelah ditaklukkannya kota Makkah, tetapi yang ada adalah jihad dan niat. Dan jika kalian dipanggil untuk berjihad, maka berangkatlah!.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Maknanya: Tidak ada lagi hijrah dari Makkah, sebab ia sudah menjadi Darul Islam.

 {}- وعن أبي عبد الله جابر بن عبد الله الأنصارى رضي الله عنهما قال‏:‏ كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم في غزاةٍ فقال‏:‏ ‏”‏إن بالمدينة لرجالاً ماسرتم مسيراً، ولا قطعتم وادياً إلا كانوا معكم حبسهم المرض‏”‏ وفى رواية‏:‏ ‏”‏إلا شاركوكم في الأجر‏”‏ ‏(‏‏(‏رواه مسلم‏)‏‏)‏‏.‏

[4] Dari Abu ‘Abdullah Jabir bin ‘Abdullah Al-Anshariy, ia berkata: Kami bersama Nabi dalam salah satu peperangan, kemudian beliau bersabda:

“Sesungguhnya di Madinah ada orang-orang yang tidaklah kalian menempuh perjalanan atau melintasi lembah melainkan mereka senantiasa bersama kalian, hanya saja mereka terhalangi oleh sakit.”

Dalam sebuah riwayat lain disebutkan, Rasulullah bersabda:

“Melainkan mereka selalu ikut serta bersama kalian dalam (mendapatkan) pahala.” (HR. Muslim)

(‏‏(‏ورواه البخاري‏)‏‏)‏ عن أنس رضي الله عنه قال‏:‏ رجعنا من غزوة تبوك مع النبي صلى الله عليه وسلم فقال‏:‏ ‏”‏ إن أقواماً خلفنا بالمدينة ما سلكنا شعباً ولا وادياً إلا وهم معنا، حبسهم العذر‏”‏‏.‏

[5] Dari Anas ia berkata: Kami bersama Nabi kembali dari perang Tabuk, kemudian beliau bersabda:

“Sesungguhnya ada orang-orang yang kalian tinggalkan di Madinah, tidaklah kalian menempuh celah bukit atau lembah melainkan mereka senantiasa menyertai kalian, mereka ditahan oleh uzur.” (HR. Al-Bukhari)

 {}- وعن أبي يزيد معن بن يزيد بن الأخنس رضي الله عنهم، وهو وأبوه وجده صحابيون، قال‏:‏ كان أبي يزيد أخرج دنانير يتصدق بها فوضعها عند رجل في المسجد فجئت فأخذتها فأتيته بها، فقال‏:‏ والله ما إياك أردت، فخاصمته إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال‏:‏ ‏”‏ لك ما نويت يا يزيد، ولك ما أخذت يامعن‏”‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏.‏

[6] Dari Abu Yazid Ma’an bin Yazid bin Al-Akhnas ia, ayah, dan kakeknya semua termasuk sahabat, ia berkata:

“Ayahku Yazid pernah mengeluarkan beberapa dinar untuk disedekahkan, lalu beliau meletakkannya di sisi seseorang di masjid. Kemudian aku datang (ke masjid), aku mengambilnya lalu aku tunjukkan kepada ayahku, ayahku berkata: “Demi Allah,bukan…engkau yang saya maksudkan.” Lalu aku mengadukan peristiwa itu kepada Rasulullah, maka beliau bersabda:

“Bagimu apa yang kamu niatkan wahai Yazid, dan bagimu apa yang kamu ambil wahai Ma’an.” (HR. Al-Bukhari)

( Diambil dari  Terjemahan Riyadush Shalihin, Hikmah Ahlus Sunnah)


%d blogger menyukai ini: