Pengertian Murabahah

November 22, 2016

Dalam situs wikipedia (https://id.wikipedia.org/wiki/Murabahah) Murabahah adalah perjanjian jual – beli antara bank dengan nasabah. Bank syariah membeli barang yang diperlukan nasabah kemudian menjualnya kepada nasabah yang bersangkutan sebesar harga perolehan ditambah dengan margin keuntungan yang disepakati antara bank syariah dan nasabah

Bai’al Murabahah adalah jual – beli pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam bai’al murabahah penjualan harus memberitahu harga produk yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahanya. (Muhammad Syafi’i Antonio , Bank Syari’ah Suatu Pengenalan Umum, edisi khusus : 2000)

Pengertian diatas dapat disimpulkan bahwasanya murabahah adalah jual – beli yang di dasarkan pada harga jual yang di ketahui oleh sipembeli dan keuntungan di sepakati secara bersama oleh pihak penjual dan pembeli. Adapun ketentuan murabahah di atur dalam fatwa Dewan Syari’ah Nasional (DSN) NO: 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syari’ah:

  1. Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba.
  2. Barang yang diperjual belikan tidak diharamkan oleh syari’ah Islam.
  3. Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya.
  4. Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba.
  5. Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara utang.
  6. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan.
  7. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati.
  8. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut, pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah.
  9. Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang, secara prinsip, menjadi milik bank.

Demikian semoga bermanfaat


%d blogger menyukai ini: