Seputar masalah sholat (Luruskan Shaf)

Agustus 11, 2017

Luruskan Shaf-Shaf Kalian!

Kedudukan dan Pentingnya Shalat
Rukun Islam yang paling utama setelah persaksian dengan dua kalimat syahadat adalah mendirikan shalat. Bahkan shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab di hari kiamat nanti. Apabila baik shalatnya, niscaya akan baik pula seluruh amalan yang lainnya akan tetapi sebaliknya apabila shalatnya rusak/jelek, niscaya akan rusak pula amalan yang lainnya.

Untuk itu sangatlah wajib bagi kita untuk memperhatikan permasalahan shalat, di mulai dari rukun-rukunnya, syarat wajibnya, thaharahnya dan lainnya yang berkaitannya dengan shalat.

Pentingnya Meluruskan Shaf & Ancaman Keras bagi yang Tidak Meluruskannya
Dan di antara hal yang berkaitan dengan shalat yang harus diperhatikan dengan serius dan tidak boleh diremehkan adalah permasalahan lurus dan rapatnya shaf (barisan dalam shalat).
Mengapa demikian? Karena ancamannya pun tidak sembarangan, yakni ancaman bagi yang tidak meluruskan shaf.

Dijelaskan di dalam hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhariy dan Al-Imam Muslim dari shahabat Abu Abdillah An-Nu’man bin Basyir, beliau berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan memalingkan antar wajah-wajah kalian (menjadikan wajah-wajah kalian berselisih).” (HR. Al-Bukhariy no.717 dan Muslim 436))

Dalam satu riwayat milik Al-Imam Muslim disebutkan,

“Bahwasanya Rasulullah biasa meluruskan shaf-shaf kami seakan-akan beliau sedang meluruskan anak panah sehingga apabila beliau melihat bahwasanya kami telah memahami hal itu, yakni wajibnya meluruskan shaf (maka beliaupun memulai shalatnya, pent). Kemudian pada suatu hari beliau keluar, lalu berdiri sampai hampir-hampir beliau bertakbir untuk shalat, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang menonjol sedikit dadanya, maka beliaupun bersabda, “Wahai hamba-hamba Allah, benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka Allah sungguh akan memalingkan antar wajah-wajah kalian.”
Lihatlah wahai saudaraku, kaum muslimin, sabda beliau yang mulia, yang mana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah Allah terangkan sifatnya kepada orang-orang beriman,
“Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan, kebaikan dan keselamatan) bagi kalian, dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (At-Taubah:128)

Tidaklah beliau bersabda demikian kecuali karena menginginkan kebaikan bagi ummatnya, kaum muslimin.
Tidak ada satu kebaikan pun yang akan mendekatkan ke jannah kecuali telah beliau tunjukkan kepada ummatnya agar melakukannya dan tidak ada satu kejelekan pun yang akan mengantarkan ke neraka kecuali telah beliau larang ummatnya agar menjauhinya.

Di dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan agar meluruskan shaf di dalam shalat dengan sabdanya, “Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian.”
“Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian” dalam kalimat ini terdapat tiga penekanan dan penguat yaitu: sumpah yang diperkirakan, lam taukid dan nun taukid.
Demikian juga kalimat setelahnya, “atau sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian”, mengandung tiga penekanan dan penguat: sumpah, lam taukid dan nun tukid, yakni jika kalian tidak meluruskan shaf, maka sungguh Allah subhanahu wa ta’ala akan memalingkan antar wajah-wajah kalian.

Makna Berpaling/Berselisihnya Wajah
Para ulama berbeda pendapat tentang makna “berpalingnya atau berselisihnya wajah”.
Sebagian mereka berpendapat, bahwasanya maknanya adalah sungguh Allah subhanahu wa ta’ala akan memalingkan antar wajah-wajah mereka dengan memalingkan sesuatu yang dapat dirasakan panca indera, yaitu dengan memutar leher, sehingga wajahnya berada dibelakangnya, dan Allah subhanahu wa ta’ala Maha Mampu atas segala sesuatu.
Dialah Allah ‘Azza Wa Jalla yang telah menjadikan sebagian keturunan Nabi Adam (yaitu Bani Israil) menjadi kera, di mana Allah subhanahu wa ta’ala berkata kepada mereka:

“Jadilah kalian kera yang hina” (Al-Baqarah:65) maka jadilah mereka kera.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala mampu untuk memutar leher manusia sehingga wajahnya berada di punggungnya, dan ini adalah siksaan yang dapat dirasakan panca indera.

Adapun ulama yang lain berpendapat, bahwa yang dimaksudkan perselisihan di sini adalah perselisihan maknawiyyah, yakni berselisihnya hati, karena hati itu mempunyai arah, maka apabila hati itu bersepakat terhadap satu arah, satu pandangan, satu aqidah dan satu manhaj, maka akan didapatkan kebaikan yang banyak. Akan tetapi sebaliknya apabila hati berselisih maka ummat pun akan berpecah belah.
Sehingga yang dimaksud perselisihan dalam hadits ini adalah perselisihan hati, dan inilah tafsiran yang paling shahih/benar, karena terdapat dalam sebagian lafazh hadits, “atau sungguh Allah akan palingkan antar hati-hati kalian.”
Dengan alasan inilah, maka yang dimaksud dengan sabda beliau, “atau sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian”, yakni cara pandang kalian, yang hal ini terjadi dengan berselisihnya hati.

Wajibnya Meluruskan Shaf
Bagaimanapun juga, di dalam hadits ini terdapat dalil akan wajibnya meluruskan shaf, dan bahwasanya wajib atas para makmum untuk meluruskan shaf-shaf mereka, dan kalau mereka tidak meluruskan shafnya, maka sungguh mereka telah mempersiapkan diri-diri mereka untuk mendapatkan siksaan dari Allah subhanahu wa ta’ala, wal’iyaadzu billaah.

Pendapat ini yaitu wajibnya meluruskan shaf adalah pendapat yang benar, sehingga wajib atas imam-imam shalat agar memperhatikan shaf, apabila didapatkan padanya kebengkokan atau ada yang sedikit maju atau mundur, maka para imam tersebut harus memperingatkan mereka agar meluruskan shafnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun kadang-kadang berjalan di antara shaf-shaf untuk meluruskannya dengan tangannya yang mulia dari shaf yang pertama sampai terakhirnya.
Ketika manusia semakin banyak di masa khilafah ‘Umar Ibnul Khaththab, ‘Umar pun memerintahkan seseorang untuk meluruskan shaf apabila telah dikumandangkan iqamah. Apabila orang yang ditugaskan tersebut telah datang dan mengatakan, “Shaf telah lurus” maka ‘Umar pun bertakbir untuk memulai shalat.

Demikian juga hal ini dilakukan oleh ‘Utsman bin ‘Affan, beliau menugaskan seseorang untuk meluruskan shaf-shaf manusia, maka apabila orang tersebut datang dan mengatakan, “Shaf telah lurus”, beliaupun bertakbir untuk memulai shalat.
Semuanya ini menunjukkan atas perhatian yang tinggi dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Khulafa`ur Rasyidin dalam masalah meluruskan shaf.

Sebagian Kaum Muslimin Susah Diatur
Akan tetapi, sungguh amat disesalkan, sekarang engkau akan dapati para makmum tidak mempedulikan masalah meluruskan shaf, yang satu agak maju ke depan, yang satu lagi agak mundur ke belakang, tidak peduli akan lurusnya shaf.
Kadang-kadang mereka lurus pada raka’at pertama, kemudian ketika sujud muncullah kesenjangan, yang satu agak maju dan yang lain agak ke belakang, dan mereka tidak meluruskan shaf pada raka’at kedua, bahkan mereka tetap seperti itu tidak meluruskan shaf di raka’at kedua dan seterusnya, ini adalah kesalahan.

Yang lebih mengherankan dari semuanya itu adalah ketika ada seseorang yang paham akan wajibnya meluruskan shaf, dia bertindak sebagai imam, maka diapun melaksanakan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu memeriksa para makmum dan memerintahkan mereka untuk meluruskan shaf, maka engkau akan dapati sebagian makmum tersebut enggan, tidak mau lurus dan rapat. Bahkan ada yang menonjol maju ke depan atau mundur ke belakang, ataupun kaki-kaki mereka tidak rapat antara satu dengan lainnya. Dalam keadaan mereka sudah mengetahui hadits di atas. Wallaahul Musta’aan.

Semoga Allah Tabaraka Wa Ta’ala menunjuki semua kaum muslimin agar menjadi orang-orang yang taat kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana sifat orang-orang mukmin yang baik adalah sami’naa wa atha’naa (kami mendengar dan kami taat), bukan sami’naa wa ‘ashainaa (kami mendengar dan kami melanggarnya).
Yang jelas wajib bagi imam maupun para makmum untuk meluruskan dan merapatkan shaf.

Bila Hanya Ada Imam & Seorang Makmum
Kalau ada yang bertanya, “Apabila di sana hanya ada imam dengan seorang makmum saja, apakah imam maju sedikit ke depan ataukah sejajar dengan makmum?”
Jawabannya adalah hendaklah imam sejajar dengan makmum, imam berada di sebelah kiri sedangkan makmum di sebelah kanan imam, karena apabila hanya ada imam dan seorang makmum saja, maka berarti shaf cuma ada satu, yang tidak mungkin makmum sendirian di belakang imam, bahkan yang benar adalah mereka berdua berada dalam satu shaf yaitu sang imam sejajar dengan makmum. Dengan berada dalam satu shaf akan terjadi kelurusan dalam shaf.
Dalilnya adalah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam, datanglah Ibnu ‘Abbas berdiri di sebelah kiri beliau, maka beliau pun menarik Ibnu ‘Abbas dan menjadikannya tepat di sebelah kanan beliau. (Muttafaqun ‘alaihi)

Hal ini berbeda dengan apa yang dikatakan oleh sebagian ulama, “Bahwasanya hendaklah imam maju sedikit ke depan”, karena pendapat ini tidak ada dalilnya, bahkan justru dalil menyelisihi pendapat ini, yaitu hendaklah antara imam dan makmum sejajar apabila mereka hanya berdua.

Jangan Ada yang Menonjol Dadanya!
Kemudian dalam riwayat yang lain disebutkan, “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa meluruskan shaf-shaf kami (para shahabat) seakan-akan meluruskan anak panah.” Maka jadilah shaf mereka benar-benar lurus dengan sempurna, sehingga tidak ada yang maju ataupun mundur walaupun sedikit.
Beliau biasa meluruskan shaf seperti meluruskan anak panah, sehingga apabila beliau melihat bahwasanya para shahabatnya telah memahaminya, yakni mereka telah paham dan tahu bahwasanya shaf harus lurus, beliaupun memulai shalatnya.
Kemudian pada suatu hari beliau keluar untuk melaksanakan shalat, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang menonjol dadanya, maka beliaupun besabda, “Wahai hamba-hamba Allah, benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian.”
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian” sebabnya adalah semata-mata hanya karena beliau melihat seseorang menonjol dadanya, yaitu dada orang tersebut menonjol sedikit.

Bagaimana kalau beliau melihat shaf-shaf yang ada sekarang? Yang satu ke depan, yang satu lagi ke belakang, shaf mereka bengkok, tidak lurus dan tidak rapat? Bisa kita bayangkan apa yang akan diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat keadaan seperti itu?

Imam Shalat Hendaklah Memeriksa Shaf
Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwasanya di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bahwa beliau senantiasa memeriksa shaf, meluruskan dan merapatkan shaf. Kalau masih ada yang belum lurus atau belum rapat maka beliaupun meluruskannya bahkan mengancam -sebagaimana kisah di atas- kepada orang yang maju sedikit dari shafnya dengan ancaman ini, “Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka sungguh Allah akan memalingkan antar wajah-wajah kalian.”

Petunjuk ini harus diteladani oleh para imam shalat agar memeriksa, mengatur dan meluruskan shaf para makmum.
Kesimpulannya adalah wajib atas kita untuk menerangkan masalah ini kepada imam-imam masjid dan demikian juga kepada para makmum agar mereka memperhatikan perkara yang sangat berbahaya ini sehingga mereka benar-benar meluruskan dan merapatkan shafnya di dalam shalat.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala selalu membimbing kita kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Wallaahu A’lam.

Disadur dari Syarh Riyaadhush Shaalihiin hal.453-454 cetakan Maktabah Ash-Shafaa dengan beberapa tambahan dan perubahan.

Abu Rasyid Ash-Shinkuaniy

(Dikutip dari bulletin Al Wala’ wal Bara’, Edisi ke-25 Tahun ke-3 / 20 Mei 2005 M / 11 Rabi’uts Tsani 1426 H, url asli http://fdawj.atspace.org/awwb/th3/25.htm)

Iklan

Kitab Hisnul Muslim – Kumpulan Doa dari Al Quran dan Hadits (II)

Agustus 11, 2017

20- DOA DUDUK ANTARA

DUA SUJUD

48- ÑóÈøö ÇÛúÝöÑú áöíú ÑóÈøö ÇÛúÝöÑú áöíú.

48. “Wahai Tuhanku, ampunilah dosa-ku, wahai Tuhanku, ampunilah dosa-ku.”

49- Çóááøóåõãøó ÇÛúÝöÑú áöíú æóÇÑúÍóãúäöíú æóÇåúÏöäöíú æóÇÌúÈõÑúäöíú æóÚóÇÝöäöíú æóÇÑúÒõÞúäöíú æóÇÑúÝóÚúäöí.

49. “Ya Allah, ampunilah dosaku, beri-lah rahmat kepadaku, tunjukkanlah aku (ke jalan yang benar), cukupkanlah aku, selamatkan aku (tubuh sehat dan kelu-arga terhindar dari musibah), berilah aku rezeki (yang halal) dan angkatlah derajatku.”

21- DOA SUJUD TILAWAH

50- ÓóÌóÏó æóÌúåöíó áöáøóÐöíú ÎóáóÞóåõ æóÕóæøóÑóåõ æóÔóÞøó ÓóãúÚóåõ æóÈóÕóÑóåõ¡ ÝóÊóÈóÇÑóßó Çááåõ ÃóÍúÓóäõ ÇáúÎóÇáöÞöíúäó.

50. Bersujud wajahku kepada Tuhan yang menciptakannya, yang membelah pendengaran dan penglihatannya dengan Daya dan KekuatanNya, Maha Suci Allah sebaik-baik Pencipta.

51- Çóááøóåõãøó ÇßúÊõÈú áöíú ÈöåóÇ ÚöäúÏóßó ÃóÌúÑðÇ¡ æóÖóÚú Úóäøöíú ÈöåóÇ æöÒúÑðÇ¡ æóÇÌúÚóáúåóÇ áöíú ÚöäúÏóßó ÐõÎúÑðÇ¡ æóÊóÞóÈøóáúåóÇ ãöäøöíú ßóãóÇ ÊóÞóÈøóáúÊóåóÇ ãöäú ÚóÈúÏößó ÏóÇæõÏó.

51. Ya Allah, tulislah untukku dengan sujudku pahala di sisiMu dan ampunilah dengannya akan dosaku, serta jadikan-lah simpanan untukku di sisiMu dan terimalah sujudku sebagaimana Engkau telah menerimanya dari hambaMu Da-wud.

22- TASYAHUD

52- ÇáÊøóÍöíøóÇÊõ áöáøóåö¡ æóÇáÕøóáóæóÇÊõ æóÇáØøóíøöÈóÇÊõ¡ ÇáÓøóáÇóãõ Úóáóíúßó ÃóíøõåóÇ ÇáäøóÈöíøõ æóÑóÍúãóÉõ Çááåö æóÈóÑóßóÇÊõåõ¡ ÇáÓøóáÇóãõ ÚóáóíúäóÇ æóÚóáóì ÚöÈóÇÏö Çááåö ÇáÕøóÇáöÍöíúäó. ÃóÔúåóÏõ Ãóäú áÇó ÅöáóÜåó ÅöáÇøó Çááåõ æóÃóÔúåóÏõ Ãóäøó ãõÍóãøóÏðÇ ÚóÈúÏõåõ æóÑóÓõæúáõåõ.

52. “Segala penghormatan hanya milik Allah, juga segala pengagungan dan kebaikan. Semoga kesejahteraan terlim-pahkan kepadamu, wahai Nabi, begitu juga rahmat dan berkahNya. Kesejah-teraan semoga terlimpahkan kepada kita dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang hak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.”

23- MEMBACA SALAWAT Nabi Muhammad (Shallahu ‘alaihi Wasallam) SETELAH TASYAHUD

53- Çóááøóåõãøó Õóáøö Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáö ãõÍóãøóÏò ßóãóÇ ÕóáøóíúÊó Úóáóì ÅöÈúÑóÇåöíúãó æóÚóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíúãó Åöäøóßó ÍóãöíúÏõ ãóÌöíúÏñ¡ Çóááøóåõãøó ÈóÇÑößú Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì Âáö ãõÍóãøóÏò ßóãóÇ ÈóÇÑóßúÊó Úóáóì ÅöÈúÑóÇåöíúãó æóÚóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíúãó Åöäøóßó ÍóãöíúÏõ ãóÌöíúÏñ.

53. “Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagai-mana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Se-sungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarganya (termasuk anak dan istri atau umatnya), sebagai-mana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarganya. Se-sungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”

54- Çóááøóåõãøó Õóáøö Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì ÃóÒúæóÇÌöåö æóÐõÑøöíøóÊöåö¡ ßóãóÇ ÕóáøóíúÊó Úóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíúãó. æóÈóÇÑößú Úóáóì ãõÍóãøóÏò æóÚóáóì ÃóÒúæóÇÌöåö æóÐõÑøöíøóÊöåö¡ ßóãóÇ ÈóÇÑóßúÊó Úóáóì Âáö ÅöÈúÑóÇåöíúãó Åöäøóßó ÍóãöíúÏñ ãóÌöíúÏñ.

54. “Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada keluarga Ibrahim. Beri-lah berkah kepada Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Eng-kau telah memberkahi kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”

24- DOA SETELAH TASYAHUD AKHIR SEBELUM SALAM

55- Çóááøóåõãøó Åöäøöíú ÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäú ÚóÐóÇÈö ÇáúÞóÈúÑö¡ æóãöäú ÚóÐóÇÈö Ìóåóäøóãó¡ æóãöäú ÝöÊúäóÉö ÇáúãóÍúíóÇ æóÇáúãóãóÇÊö¡ æóãöäú ÔóÑøö ÝöÊúäóÉö ÇáúãóÓöíúÍö ÇáÏøóÌøóÇáö.

55. “Ya Allah, Sesungguhnya aku ber-lindung kepadaMu dari siksaan kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal.”

56- Çóááøóåõãøó Åöäøöíú ÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäú ÚóÐóÇÈö ÇáúÞóÈúÑö¡ æóÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäú ÝöÊúäóÉö ÇáúãóÓöíúÍö ÇáÏøóÌøóÇáö¡ æóÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäú ÝöÊúäóÉö ÇáúãóÍúíóÇ æóÇáúãóãóÇÊö. Çóááøóåõãøó Åöäøöíú ÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäú ÇáúãóÃúËóãö æóÇáúãóÛúÑóãö.

56. “Ya Allah! Sesungguhnya aku ber-lindung kepadaMu dari siksa kubur. Aku berlindung kepadaMu dari fitnah Alma-sih Dajjal. Aku berlindung kepadaMu dari fitnah kehidupan dan sesudah mati. Ya Allah, Sesungguhnya aku berlin-dung kepadaMu dari perbuatan dosa dan kerugian.”

57- Çóááøóåõãøó Åöäøöíú ÙóáóãúÊõ äóÝúÓöíú ÙõáúãðÇ ßóËöíúÑðÇ¡ æóáÇó íóÛúÝöÑõ ÇáÐøõäõæúÈó ÅöáÇøó ÃóäúÊó¡ ÝóÇÛúÝöÑú áöíú ãóÛúÝöÑóÉð ãöäú ÚöäúÏößó æóÇÑúÍóãúäöíú Åöäøóßó ÃóäúÊó ÇáúÛóÝõæúÑõ ÇáÑøóÍöíúãõ.

57. “Ya Allah! Sesungguhnya aku ba-nyak menganiaya diriku, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Oleh karena itu, ampunilah dosa-dosaku dan berilah rahmat kepa-daku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

58- Çóááøóåõãøó ÇÛúÝöÑú áöíú ãóÇ ÞóÏøóãúÊõ æóãóÇ ÃóÎøóÑúÊõ¡ æóãóÇ ÃóÓúÑóÑúÊõ æóãóÇ ÃóÚúáóäúÊõ¡ æóãóÇ ÃóÓúÑóÝúÊõ æóãóÇ ÃóäúÊó ÃóÚúáóãõ Èöåö ãöäøöíú. ÃóäúÊó ÇáúãõÞóÏøöãõ æóÃóäúÊó ÇáúãõÄóÎøöÑõ áÇó ÅöáóÜåó ÅöáÇøó ÃóäúÊó.

58. Ya Allah! Ampunilah aku akan (dosaku) yang aku lewatkan dan yang aku akhirkan, apa yang aku rahasiakan dan yang kutampakkan, yang aku lakukan secara berlebihan, serta apa yang Engkau lebih mengetahui dari pada aku, Engkau yang mendahulukan dan mengakhirkan, tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Engkau.

59- Çóááøóåõãøó ÃóÚöäøöíú Úóáóì ÐößúÑößó¡ æóÔõßúÑößó¡ æóÍõÓúäö ÚöÈóÇÏóÊößó.

59. “Ya Allah! Berilah pertolongan kepadaku untuk menyebut namaMu, syukur kepadaMu dan ibadah yang baik untukMu.”

60- Çóááøóåõãøó Åöäøöíú ÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäó ÇáúÈõÎúáö¡ æóÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäó ÇáúÌõÈúäö¡ æóÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäó Ãóäú ÃõÑóÏøó Åöáóì ÃóÑúÐóáö ÇáúÚõãúÑö¡ æóÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäó ÝöÊúäóÉö ÇáÏøõäúíóÇ æóÚóÐóÇÈö ÇáúÞóÈúÑö.

60. “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari bakhil, aku berlindung kepadaMu dari penakut, aku berlindung kepadaMu dari dikembalikan ke usia yang terhina, dan aku berlin-dung kepadaMu dari fitnah dunia dan siksa kubur.”

61- Çóááøóåõãøó Åöäøöíú ÃóÓúÃóáõßó ÇáúÌóäøóÉó æóÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäó ÇáäøóÇÑö.

61. “Ya Allah! Sesungguhnya aku mo-hon kepadaMu, agar dimasukkan ke Surga dan aku berlindung kepadaMu dari Neraka.”

62- Çóááøóåõãøó ÈöÚöáúãößó ÇáúÛóíúÈó æóÞõÏúÑóÊößó Úóáóì ÇáúÎóáúÞö ÃóÍúíöäöíú ãóÇ ÚóáöãúÊó ÇáúÍóíóÇÉó ÎóíúÑðÇ áöíú¡ æóÊóæóÝøóäöíú ÅöÐóÇ ÚóáöãúÊó ÇáúæóÝóÇÉó ÎóíúÑðÇ áöíú¡ Çóááøóåõãøó Åöäøöíú ÃóÓúÃóáõßó ÎóÔúíóÊóßó Ýöí ÇáúÛóíúÈö æóÇáÔøóåóÇÏóÉö¡ æóÃóÓúÃóáõßó ßóáöãóÉó ÇáúÍóÞøö Ýöí ÇáÑøöÖóÇ æóÇáúÛóÖóÈö¡ æóÃóÓúÃóáõßó ÇáúÞóÕúÏó Ýöí ÇáúÛöäóì æóÇáúÝóÞúÑö¡ æóÃóÓúÃóáõßó äóÚöíúãðÇ áÇó íóäúÝóÏõ¡ æóÃóÓúÃóáõßó ÞõÑøóÉó Úóíúäò áÇó íóäúÞóØöÚõ¡ æóÃóÓúÃóáõßó ÇáÑøöÖóÇ ÈóÚúÏó ÇáúÞóÖóÇÁö¡ æóÃóÓúÃóáõßó ÈóÑúÏó ÇáúÚóíúÔö ÈóÚúÏó ÇáúãóæúÊö¡ æóÃóÓúÃóáõßó áóÐøóÉó ÇáäøóÙóÑö Åöáóì æóÌúåößó æóÇáÔøóæúÞó Åöáóì áöÞóÇÆößó Ýöíú ÛóíúÑö ÖóÑøóÇÁó ãõÖöÑøóÉò æóáÇó ÝöÊúäóÉò ãõÖöáøóÉò¡ Çóááøóåõãøó ÒóíøöäøóÇ ÈöÒöíúäóÉö ÇúáÅöíúãóÇäö æóÇÌúÚóáúäóÇ åõÏóÇÉð ãõåúÊóÏöíúäó.

62. “Ya Allah, dengan ilmuMu atas yang gaib dan dengan kemahakuasa-anMu atas seluruh makhluk, perpan-janglah hidupku, bila Engkau mengeta-hui bahwa kehidupan selanjutnya lebih baik bagiku. Dan matikan aku dengan segera, bila Engkau mengetahui bahwa kematian lebih baik bagiku. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu agar aku takut kepadaMu dalam keada-an sembunyi (sepi) atau ramai. Aku mohon kepadaMu, agar dapat berpe-gang dengan kalimat hak di waktu rela atau marah. Aku minta kepadaMu, agar aku bisa melaksanakan kesederhanaan dalam keadaan kaya atau fakir, aku mohon kepadaMu agar diberi nikmat yang tidak habis dan aku minta kepadaMu, agar diberi penyejuk mata yang tak putus. Aku mohon kepadaMu agar aku dapat rela setelah qadhaMu (turun pada kehidupanku). Aku mohon kepadaMu kehidupan yang menyenang-kan setelah aku meninggal dunia. Aku mohon kepadaMu kenikmatan meman-dang wajahMu (di Surga), rindu bertemu denganMu tanpa penderitaan yang mem-bahayakan dan fitnah yang menye-satkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan keimanan dan jadikanlah kami sebagai penunjuk jalan (lurus) yang memperoleh bimbingan dariMu.”

63- Çóááøóåõãøó Åöäøöíú ÃóÓúÃóáõßó íóÇ Çóááåõ ÈöÃóäøóßó ÇáúæóÇÍöÏõ ÇúáÃóÍóÏõ ÇáÕøóãóÏõ ÇáøóÐöíú áóãú íóáöÏú æóáóãú íõæúáóÏú æóáóãú íóßõäú áóåõ ßõÝõæðÇ ÃóÍóÏñ¡ Ãóäú ÊóÛúÝöÑó áöíú ÐõäõæúÈöíú Åöäøóßó ÃóäúÊó ÇáúÛóÝõæúÑõ ÇáÑøóÍöíúãõ.

63. “Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepadaMu, ya Allah! Dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Tunggal tidak membutuhkan sesuatu, tapi segala sesuatu butuh kepadaMu, tidak beranak dan tidak diperanakkan (tidak punya ibu dan bapak), tidak ada seorang pun yang menyamaiMu, aku mohon kepadaMu agar mengampuni dosa-dosaku. Se-sungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

64- Çóááøóåõãøó Åöäøöíú ÃóÓúÃóáõßó ÈöÃóäøó áóßó ÇáúÍóãúÏó áÇó ÅöáóÜåó ÅöáÇøó ÃóäúÊó æóÍúÏóßó áÇó ÔóÑöíúßó áóßó¡ ÇáúãóäøóÇäõ¡ íóÇ ÈóÏöíúÚó ÇáÓøóãóÇæóÇÊö æóÇúáÃóÑúÖö íóÇ ÐóÇ ÇáúÌóáÇóáö æóÇúáÅößúÑóÇãö¡ íóÇ Íóíøõ íóÇ Þóíøõæúãõ Åöäøöíú ÃóÓúÃóáõßó ÇáúÌóäøóÉó æóÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäó ÇáäøóÇÑö.

64. “Ya Allah! Aku mohon kepadaMu. Sesungguhnya bagiMu segala pujian, tiada Tuhan (yang hak disembah) kecuali Engkau Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiMu, Maha Pemberi nikmat, Pencip-ta langit dan bumi tanpa contoh sebe-lumnya. Wahai Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Pemurah, wahai Tuhan Yang Hidup, wahai Tuhan yang mengurusi segala sesuatu, sesungguhnya aku mohon kepadaMu agar dimasukkan ke Surga dan aku berlindung kepadaMu dari siksa Neraka.”

65- Çóááøóåõãøó Åöäøöíú ÃóÓúÃóáõßó ÈöÃóäøöíú ÃóÔúåóÏõ Ãóäøóßó ÃóäúÊó áÇó ÅöáóÜåó ÅöáÇøó ÃóäúÊó ÇúáÃóÍóÏõ ÇáÕøóãóÏõ ÇáøóÐöíú áóãú íóáöÏú æóáóãú íõæúáóÏú æóáóãú íóßõäú áóåõ ßõÝõæðÇ ÃóÍóÏñ.

65. “Ya Allah, aku mohon kepadaMu dengan bersaksi, bahwa Engkau adalah Allah, tiada Tuhan (yang berhak disem-bah) kecuali Engkau, Maha Esa, tidak membutuhkan sesuatu tapi segala sesuatu butuh kepadaMu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak seorang pun yang menyamaiNya, (sesungguh-nya aku mohon kepadaMu).”

25- BACAAN SETELAH SALAM

66- ÃóÓúÊóÛúÝöÑõ Çááåó (ËáÇËÇ) Çóááøóåõãøó ÃóäúÊó ÇáÓøóáÇóãõ¡ æóãöäúßó ÇáÓøóáÇóãõ¡ ÊóÈóÇÑóßúÊó íóÇ ÐóÇ ÇáúÌóáÇóáö æóÇúáÅößúÑóÇãö.

66. “Aku minta ampun kepada Allah,” (dibaca tiga kali). Lantas membaca: “Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dariMu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”

67- áÇó ÅöáóÜåó ÅöáÇøó Çááåõ æóÍúÏóåõ áÇó ÔóÑöíúßó áóåõ¡ áóåõ Çáúãõáúßõ æóáóåõ ÇáúÍóãúÏõ æóåõæó Úóáóì ßõáøö ÔóíúÁò ÞóÏöíúÑõ¡ Çóááøóåõãøó áÇó ãóÇäöÚó áöãóÇ ÃóÚúØóíúÊó¡ æóáÇó ãõÚúØöíó áöãóÇ ãóäóÚúÊó¡ æóáÇó íóäúÝóÚõ ÐóÇ ÇáúÌóÏøö ãöäúßó ÇáúÌóÏøõ.

67. “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas se-gala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Eng-kau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal shalihnya). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.”

68- áÇó ÅöáóÜåó ÅöáÇøó Çááåõ æóÍúÏóåõ áÇó ÔóÑöíúßó áóåõ¡ áóåõ Çáúãõáúßõ æóáóåõ ÇáúÍóãúÏõ æóåõæó Úóáóì ßõáøö ÔóíúÁò ÞóÏöíúÑõ. áÇó Íóæúáó æóáÇó ÞõæøóÉó ÅöáÇøó ÈöÇááåö¡ áÇó ÅöáóÜåó ÅöáÇøó Çááåõ¡ æóáÇó äóÚúÈõÏõ ÅöáÇøó ÅöíøóÇåõ¡ áóåõ ÇáäøöÚúãóÉõ æóáóåõ ÇáúÝóÖúáõ æóáóåõ ÇáËøóäóÇÁõ ÇáúÍóÓóäõ¡ áÇó ÅöáóÜåó ÅöáÇøó Çááåõ ãõÎúáöÕöíúäó áóåõ ÇáÏøöíúäó æóáóæú ßóÑöåó ÇáúßóÇÝöÑõæúäó.

68. “Tiada Tuhan (yang berhak disem-bah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan pujaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tia-da Tuhan (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepadaNya. Bagi-Nya nikmat, anugerah dan pujaan yang baik. Tiada Tuhan (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepadaNya, sekalipun orang-orang kafir sama ben-ci.”

69- ÓõÈúÍóÇäó Çááåö æóÇáúÍóãúÏõ áöáøóåö æóÇááåõ ÃóßúÈóÑõ (33 ×) áÇó ÅöáóÜåó ÅöáÇøó Çááåõ æóÍúÏóåõ áÇó ÔóÑöíúßó áóåõ¡ áóåõ Çáúãõáúßõ æóáóåõ ÇáúÍóãúÏõ æóåõæó Úóáóì ßõáøö ÔóíúÁò ÞóÏöíúÑõ.

69. “Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Dan Allah Maha Besar. (Tiga puluh tiga kali). Tidak ada Tuhan (yang hak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan. BagiNya pujaan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”

70. Membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas setiap selesai shalat (far-dhu).

71. Membaca ayat Kursi setiap selesai shalat (fardhu).

72- áÇó ÅöáóÜåó ÅöáÇøó Çááåõ æóÍúÏóåõ áÇó ÔóÑöíúßó áóåõ¡ áóåõ Çáúãõáúßõ æóáóåõ ÇáúÍóãúÏõ íõÍúíöíú æóíõãöíúÊõ æóåõæó Úóáóì ßõáøö ÔóíúÁò ÞóÏöíúÑõ. (10× ÈÚÏ ÕáÇÉ ÇáãÛÑÈ æÇáÕÈÍ)

72. “Tiada Tuhan (yang berhak disem-bah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan, bagi-Nya segala puja. Dia-lah yang menghi-dupkan (orang yang sudah mati atau memberi roh janin yang akan dilahirkan) dan yang mematikan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.” Diba-ca sepuluh kali setiap sesudah shalat Maghrib dan Subuh.

73- Çóááøóåõãøó Åöäøöíú ÃóÓúÃóáõßó ÚöáúãðÇ äóÇÝöÚðÇ¡ æóÑöÒúÞðÇ ØóíøöÈðÇ¡ æóÚóãóáÇð ãõÊóÞóÈøóáÇð.

73. “Ya Allah! Sesungguhnya aku mo-hon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang diteri-ma.” (Dibaca setelah salam shalat Su-buh).

26- DOA SHALAT ISTIKHARAH

74. Jabir bin AbdillahRadiyallahu ‘anhu berkata: Ada-lah Rasulullah (Shallahu ‘alaihi Wasallam) mengajari kami shalat Istikharah untuk memutuskan segala sesuatu, sebagaimana mengajari surah Al-Qur-an. Beliau bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu mempunyai rencana untuk mengerjakan sesuatu, hendaknya melakukan shalat sunah (Istikharah) dua rakaat, kemudian baca-lah doa ini:

74- ((Çóááøóåõãøó Åöäøöíú ÃóÓúÊóÎöíúÑõßó ÈöÚöáúãößó¡ æóÃóÓúÊóÞúÏöÑõßó ÈöÞõÏúÑóÊößó¡ æóÃóÓúÃóáõßó ãöäú ÝóÖúáößó ÇáúÚóÙöíúãö¡ ÝóÅöäøóßó ÊóÞúÏöÑõ æóáÇó ÃóÞúÏöÑõ¡ æóÊóÚúáóãõ æóáÇó ÃóÚúáóãõ¡ æóÃóäúÊó ÚóáÇøóãõ ÇáúÛõíõæúÈö. Çóááøóåõãøó Åöäú ßõäúÊó ÊóÚúáóãõ Ãóäøó åóÐóÇ ÇúáÃóãúÑó -æóíõÓóãøóì ÍóÇÌóÊóåõ- ÎóíúÑñ áöíú Ýöíú Ïöíúäöíú æóãóÚóÇÔöíú æóÚóÇÞöÈóÉö ÃóãúÑöíú -Ãóæú ÞóÇáó: ÚóÇÌöáöåö æóÂÌöáöåö- ÝóÇÞúÏõÑúåõ áöíú æóíóÓøöÑúåõ áöíú Ëõãøó ÈóÇÑößú áöíú Ýöíúåö¡ æóÅöäú ßõäúÊó ÊóÚúáóãõ Ãóäøó åóÐóÇ ÇúáÃóãúÑó ÔóÑøñ áöíú Ýöíú Ïöíúäöíú æóãóÚóÇÔöíú æóÚóÇÞöÈóÉö ÃóãúÑöíú -Ãóæú ÞóÇáó: ÚóÇÌöáöåö æóÂÌöáöåö- ÝóÇÕúÑöÝúåõ Úóäøöíú æóÇÕúÑöÝúäöíú Úóäúåõ æóÇÞúÏõÑú áöíó ÇáúÎóíúÑó ÍóíúËõ ßóÇäó Ëõãøó ÃóÑúÖöäöíú Èöåö)).

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepadaMu dengan ilmu pengetahuanMu dan aku mohon kekuasaanMu (untuk mengatasi perso-alanku) dengan kemahakuasaanMu. Aku mohon kepadaMu sesuatu dari anugerahMu Yang Maha Agung, se-sungguhnya Engkau Mahakuasa, se-dang aku tidak kuasa, Engkau mengeta-hui, sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (orang yang mempunyai hajat hendak-nya menyebut persoalannya) lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terha-dap diriku atau -Nabi Muhammad (Shallahu ‘alaihi Wasallam) bersabda: …di dunia atau akhirat- sukseskanlah untuk-ku, mudahkan jalannya, kemudian beri-lah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, per-ekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untukku di mana saja keba-ikan itu berada, kemudian berilah kere-laanMu kepadaku.”

Tidak menyesal orang yang beristi-kharah kepada Al-Khaliq dan bermusya-warah dengan orang-orang mukmin dan berhati-hati dalam menangani perso-alannya. Allah Ta’ala berfirman:

“… dan bermusyawarahlah kepada mereka (para sahabat) dalam urusan itu (peperangan, perekonomian, politik dan lain-lain). Bila kamu telah membulatkan tekad, bertawakkallah kepada Allah…” (Ali Imran, 3: 159)

27- BACAAN DI WAKTU PAGI

DAN SORE

75- ÃÚæÐ ÈÇááå ãä ÇáÔíØÇä ÇáÑÌíã

75. Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk. Allah tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Al-Baqarah: 255).

76. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sem-bahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.

77- ÃóÕúÈóÍúäóÇ æóÃóÕúÈóÍó Çáúãõáúßõ áöáøóåö¡ æóÇáúÍóãúÏõ áöáøóåö¡ áÇó ÅöáóÜåó ÅöáÇøó Çááåõ æóÍúÏóåõ áÇó ÔóÑöíúßó áóåõ¡ áóåõ Çáúãõáúßõ æóáóåõ ÇáúÍóãúÏõ æóåõæó Úóáóì ßõáøö ÔóíúÁò ÞóÏöíúÑõ. ÑóÈøö ÃóÓúÃóáõßó ÎóíúÑó ãóÇ Ýöíú åóÐóÇ Çáúíóæúãö æóÎóíúÑó ãóÇ ÈóÚúÏóåõ¡ æóÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäú ÔóÑøö ãóÇ Ýöíú åóÐóÇ Çáúíóæúãö æóÔóÑøö ãóÇ ÈóÚúÏóåõ¡ ÑóÈøö ÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäó ÇáúßóÓóáö æóÓõæúÁö ÇáúßöÈóÑö¡ ÑóÈøö ÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäú ÚóÐóÇÈò Ýöí ÇáäøóÇÑö æóÚóÐóÇÈò Ýöí ÇáúÞóÈúÑö.

77. “Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. Bagi-Nya kerajaan dan bagiNya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala se-suatu. Hai Tuhan, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Tuhan, aku berlin-dung kepadaMu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Tuhan! Aku berlindung kepadaMu dari siksaan di Neraka dan kubur.”

78- Çóááøóåõãøó Èößó ÃóÕúÈóÍúäóÇ¡ æóÈößó ÃóãúÓóíúäóÇ¡ æóÈößó äóÍúíóÇ¡ æóÈößó äóãõæúÊõ æóÅöáóíúßó ÇáäøõÔõæúÑõ.

78. “Ya Allah, dengan rahmat dan pertolonganMu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan perto-longanMu kami memasuki waktu sore. Dengan rahmat dan pertolonganMu kami hidup dan dengan kehendakMu kami mati. Dan kepadaMu kebangkitan (bagi semua makhluk).”

79- Çóááøóåõãøó ÃóäúÊó ÑóÈøöíú áÇó ÅöáóÜåó ÅöáÇøó ÃóäúÊó¡ ÎóáóÞúÊóäöíú æóÃóäóÇ ÚóÈúÏõßó¡ æóÃóäóÇ Úóáóì ÚóåúÏößó æóæóÚúÏößó ãóÇ ÇÓúÊóØóÚúÊõ¡ ÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäú ÔóÑøö ãóÇ ÕóäóÚúÊõ¡ ÃóÈõæúÁõ áóßó ÈöäöÚúãóÊößó Úóáóíøó¡ æóÃóÈõæúÁõ ÈöÐóäúÈöíú ÝóÇÛúÝöÑú áöíú ÝóÅöäøóåõ áÇó íóÛúÝöÑõ ÇáÐøõäõæúÈó ÅöáÇøó ÃóäúÊó.

79. “Ya Allah! Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkau-lah yang mencip-takan aku. Aku adalah hambaMu. Aku akan setia pada perjanjianku denganMu semampuku. Aku berlindung kepadaMu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.”

80- Çóááøóåõãøó Åöäøöíú ÃóÕúÈóÍúÊõ ÃõÔúåöÏõ æóÃõÔúåöÏõ ÍóãóáóÉó ÚóÑúÔößó¡ æóãóáÇóÆößóÊóßó æóÌóãöíúÚó ÎóáúÞößó¡ Ãóäøóßó ÃóäúÊó Çááåõ áÇó ÅöáóÜåó ÅöáÇøó ÃóäúÊó æóÍúÏóßó áÇó ÔóÑöíúßó áóßó¡ æóÃóäøó ãõÍóãøóÏðÇ ÚóÈúÏõßó æóÑóÓõæúáõßó. (4×)

80. “Ya Allah! Sesungguhnya aku di waktu pagi ini mempersaksikan Engkau, malaikat yang memikul arasyMu, malai-kat-malaikat dan seluruh makhlukMu, bahwa sesungguhnya Engkau adalah Allah, tiada Tuhan yang berhak disem-bah kecuali Engkau Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiMu dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.” (Dibaca empat kali waktu pagi dan sore).

81- Çóááøóåõãøó ãóÇ ÃóÕúÈóÍó Èöíú ãöäú äöÚúãóÉò Ãóæú ÈöÃóÍóÏò ãöäú ÎóáúÞößó Ýóãöäúßó æóÍúÏóßó áÇó ÔóÑöíúßó áóßó¡ Ýóáóßó ÇáúÍóãúÏõ æóáóßó ÇáÔøõßúÑõ.

81. “Ya Allah! Nikmat yang kuterima atau diterima oleh seseorang di antara makhlukMu di pagi ini adalah dariMu. Maha Esa Engkau, tiada sekutu bagi-Mu. BagiMu segala puji dan kepadaMu panjatan syukur (dari seluruh makhluk-Mu).”

82- Çóááøóåõãøó ÚóÇÝöäöíú Ýöíú ÈóÏóäöíú¡ Çóááøóåõãøó ÚóÇÝöäöíú Ýöíú ÓóãúÚöíú¡ Çóááøóåõãøó ÚóÇÝöäöíú Ýöíú ÈóÕóÑöíú¡ áÇó ÅöáóÜåó ÅöáÇøó ÃóäúÊó. Çóááøóåõãøó Åöäøöí ÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäó ÇáúßõÝúÑö æóÇáúÝóÞúÑö¡ æóÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäú ÚóÐóÇÈö ÇáúÞóÈúÑö¡ áÇó ÅöáóÜåó ÅöáÇøó ÃóäúÊó. (3×)

82. “Ya Allah! Selamatkan tubuhku (da-ri penyakit dan yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkan pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau sesuatu yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkan penglihatanku, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Eng-kau. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlin-dung kepadaMu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau.” (Di-baca tiga kali di waktu pagi dan sore).

83- ÍóÓúÈöíó Çááåõ áÇó ÅöáóÜåó ÅöáÇøó åõæó Úóáóíúåö ÊóæóßøóáúÊõ æóåõæó ÑóÈøõ ÇáúÚóÑúÔö ÇáúÚóÙöíúãö. (7×)

83. “Allah-lah yang mencukupi (segala kebutuhanku), tiada Tuhan (yang ber-hak disembah) kecuali Dia, kepadaNya aku bertawakal. Dia-lah Tuhan yang menguasai ‘Arsy yang agung.” (Dibaca tujuh kali waktu pagi dan sore).

84- Çóááøóåõãøó Åöäøöíú ÃóÓúÃóáõßó ÇáúÚóÝúæó æóÇáúÚóÇÝöíóÉó Ýöí ÇáÏøõäúíóÇ æóÇúáÂÎöÑóÉö¡ Çóááøóåõãøó Åöäøöíú ÃóÓúÃóáõßó ÇáúÚóÝúæó æóÇáúÚóÇÝöíóÉó Ýöí Ïöíúäöíú æóÏõäúíóÇíó æóÃóåúáöíú æóãóÇáöíú. Çóááøóåõãøó ÇÍúÝóÙúäöíú ãöäú Èóíúäö íóÏóíøó¡ æóãöäú ÎóáúÝöíú¡ æóÚóäú íóãöíúäöíú æóÚóäú ÔöãóÇáöíú¡ æóãöäú ÝóæúÞöíú¡ æóÃóÚõæúÐõ ÈöÚóÙóãóÊößó Ãóäú ÃõÛúÊóÇáó ãöäú ÊóÍúÊöíú.

84. “Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesung-guhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, ke-luarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah! Peli-haralah aku dari muka, belakang, ka-nan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaranMu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ulat atau bumi pecah yang membuat aku jatuh dan lain-lain).”

85- Çóááøóåõãøó ÚóÇáöãó ÇáúÛóíúÈö æóÇáÔøóåóÇÏóÉö ÝóÇØöÑó ÇáÓøóãóÇæóÇÊö æóÇúáÃóÑúÖö¡ ÑóÈøó ßõáøö ÔóíúÁò æóãóáöíúßóåõ¡ ÃóÔúåóÏõ Ãóäú áÇó ÅöáóÜåó ÅöáÇøó ÃóäúÊó¡ ÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäú ÔóÑøö äóÝúÓöíú¡ æóãöäú ÔóÑøö ÇáÔøóíúØóÇäö æóÔöÑúßöåö¡ æóÃóäú ÃóÞúÊóÑöÝó Úóáóì äóÝúÓöíú ÓõæúÁðÇ Ãóæú ÃóÌõÑøõåõ Åöáóì ãõÓúáöãò.

85. “Ya Allah! Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Tuhan pencipta langit dan bumi, Tuhan segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang hak kecuali Engkau. Aku berlin-dung kepadaMu dari kejahatan diriku, setan dan balatentaranya, dan aku (berlindung kepadaMu) dari berbuat ke-jelekan terhadap diriku atau menyeret-nya kepada seorang muslim.”

86- ÈöÓúãö Çááåö áÇó íóÖõÑøõ ãóÚó ÇÓúãöåö ÔóíúÁñ Ýöí ÇúáÃóÑúÖö æóáÇó Ýöí ÇáÓøóãóÇÁö æóåõæó ÇáÓøóãöíúÚõ ÇáúÚóáöíúãõ. (3×)

86. “Dengan nama Allah yang bila dise-but, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Ma-ha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Dibaca tiga kali).

87- ÑóÖöíúÊõ ÈöÇááåö ÑóÈøðÇ¡ æóÈöÇúáÅöÓúáÇóãö ÏöíúäðÇ¡ æóÈöãõÍóãøóÏò Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó äóÈöíøðÇ. (3×)

87. “Aku rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai nabi (yang diutus oleh Allah).” (Dibaca tiga kali).

88- íóÇ Íóíøõ íóÇ Þóíøõæúãõ ÈöÑóÍúãóÊößó ÃóÓúÊóÛöíúËõ¡ ÃóÕúáöÍú áöíú ÔóÃúäöíú ßõáøóåõ æóáÇó Êóßöáúäöíú Åöáóì äóÝúÓöíú ØóÑúÝóÉó Úóíúäò.

88. “Wahai Tuhan Yang Maha Hidup, wahai Tuhan Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekalipun sekejap mata (tan-pa mendapat pertolongan dariMu).”

89- ÃóÕúÈóÍúäóÇ æóÃóÕúÈóÍó Çáúãõáúßõ áöáøóåö ÑóÈøö ÇáúÚóÇáóãöíúäó¡ Çóááøóåõãøó Åöäøöíú ÃóÓúÃóáõßó ÎóíúÑó åóÐóÇ Çáúíóæúãö: ÝóÊúÍóåõ¡ æóäóÕúÑóåõ æóäõæúÑóåõ¡ æóÈóÑóßóÊóåõ¡ æóåõÏóÇåõ¡ æóÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäú ÔóÑøö ãóÇ Ýöíúåö æóÔóÑøö ãóÇ ÈóÚúÏóåõ.

89. ”Kami masuk pagi, sedang kerajaan hanya milik Allah, Tuhan seru sekalian alam. Ya Allah, sesungguhnya aku me-mohon kepadaMu agar memperoleh ke-baikan, pembuka (rahmat), pertolongan, cahaya, berkah dan petunjuk di hari ini. Aku berlindung kpadaMu dari kejelekan apa yang ada di dalamnya dan keja-hatan sesudahnya.”

90- ÃóÕúÈóÍúäóÇ Úóáóì ÝöØúÑóÉö ÇúáÅöÓúáÇóãö æóÚóáóì ßóáöãóÉö ÇúáÅöÎúáÇóÕö¡ æóÚóáóì Ïöíúäö äóÈöíøöäóÇ ãõÍóãøóÏò Õóáøóì Çááåõ Úóáóíúåö æóÓóáøóãó¡ æóÚóáóì ãöáøóÉö ÃóÈöíúäóÇ ÅöÈúÑóÇåöíúãó¡ ÍóäöíúÝðÇ ãõÓúáöãðÇ æóãóÇ ßóÇäó ãöäó ÇáúãõÔúÑößöíúäó.

90. “Di waktu pagi kami memegang agama Islam, kalimat ikhlas, agama Nabi kita Muhammad n, dan agama ayah kami Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orang-orang musyrik.”

91- ÓõÈúÍóÇäó Çááåö æóÈöÍóãúÏöåö. (100×)

91. “Maha Suci Allah, aku memujiNya.” (Dibaca seratus kali).

92- áÇó ÅöáóÜåó ÅöáÇøó Çááåõ æóÍúÏóåõ áÇó ÔóÑöíúßó áóåõ¡ áóåõ Çáúãõáúßõ æóáóåõ ÇáúÍóãúÏõ æóåõæó Úóáóì ßõáøö ÔóíúÁò ÞóÏöíúÑõ. (10× Ãæ 1× ÚäÏ ÇáßÓá)

92. “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca sepuluh kali, atau cukup sekali dalam keadaan malas).

93- áÇó ÅöáóÜåó ÅöáÇøó Çááåõ æóÍúÏóåõ áÇó ÔóÑöíúßó áóåõ¡ áóåõ Çáúãõáúßõ æóáóåõ ÇáúÍóãúÏõ æóåõæó Úóáóì ßõáøö ÔóíúÁò ÞóÏöíúÑõ. (100× ÅÐÇ ÃÕÈÍ)

93. “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca seratus kali setiap pagi hari).

94- ÓõÈúÍóÇäó Çááåö æóÈöÍóãúÏöåö: ÚóÏóÏó ÎóáúÞöåö¡ æóÑöÖóÇ äóÝúÓöåö¡ æóÒöäóÉó ÚóÑúÔöåö æóãöÏóÇÏó ßóáöãóÇÊöåö. (3× ÅÐÇ ÃÕÈÍ)

94. “Maha Suci Allah, aku memujiNya sebanyak makhlukNya, sejauh kerela-anNya, seberat timbangan arasyNya dan sebanyak tinta tulisan kalimatNya.” (Dibaca tiga kali setiap pagi hari).

95- Çóááøóåõãøó Åöäøöíú ÃóÓúÃóáõßó ÚöáúãðÇ äóÇÝöÚðÇ¡ æóÑöÒúÞðÇ ØóíøöÈðÇ¡ æóÚóãóáÇð ãõÊóÞóÈøóáÇð. (ÅÐÇ ÃÕÈÍ)

95. Ya Allah, sungguh aku memohon kepadaMu ilmu yang manfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima. (Dibaca pagi hari).

96- ÃóÓúÊóÛúÝöÑõ Çááåó æóÃóÊõæúÈõ Åöáóíúåö. (100× Ýí Çáíæã)

96. Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepadaNya. (Dibaca 100 kali dalam sehari).

97- ÃóÚõæúÐõ ÈößóáöãóÇÊö Çááåö ÇáÊøóÇãøóÇÊö ãöäú ÔóÑøö ãóÇ ÎóáóÞó. (3× ÅÐÇ ÃãÓì)

97. Aku berlindung dengan kalimat-kali-mat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakanNya. (Dibaca 3 kali pada sore hari).

98- Çóááøóåõãøó Õóáøö æóÓóáøöãú Úóáóì äóÈöíøöäóÇ ãõÍóãøóÏò. (10×)

98. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad. (Dibaca 10 kali).

28- BACAAN SEBELUM TIDUR

99. Mengumpulkan dua tapak tangan. Lalu ditiup dan dibacakan Qul huwal-lahu ahad, Qul a’uudzu birabbil falaqi dan Qul a’uudzu birabbin naas. Ke-mudian dengan dua tapak tangan mengusap tubuh yang dapat dijangkau dengannya. Dimulai dari kepala, wajah dan tubuh bagian depan tiga kali.

101. Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman ke-pada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan):”Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan:”Kami dengar dan kami ta’at”. (Mereka berdoa):”Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Eng-kaulah tempat kembali”. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesu-ai dengan kesanggupannya. Ia menda-pat pahala (dari kebajikan) yang diusa-hakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa):”Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, jangan-lah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

102- ÈöÇÓúãößó ÑóÈøöíú æóÖóÚúÊõ ÌóäúÈöíú¡ æóÈößó ÃóÑúÝóÚõåõ¡ ÝóÅöäú ÃóãúÓóßúÊó äóÝúÓöíú ÝóÇÑúÍóãúåóÇ¡ æóÅöäú ÃóÑúÓóáúÊóåóÇ ÝóÇÍúÝóÙúåóÇ ÈöãóÇ ÊóÍúÝóÙõ Èöåö ÚöÈóÇÏóßó ÇáÕøóÇáöÍöíúäó.

102. “Dengan nama Engkau, wahai Tuhanku, aku meletakkan lambungku. Dan dengan namaMu pula aku bangun daripadanya. Apabila Engkau menahan rohku (mati), maka berilah rahmat pa-danya. Tapi, apabila Engkau melepas-kannya, maka peliharalah, sebagaima-na Engkau memelihara hamba-ham-baMu yang shalih.”

103- Çóááøóåõãøó Åöäøóßó ÎóáóÞúÊó äóÝúÓöíú æóÃóäúÊó ÊóæóÝøóÇåóÇ¡ áóßó ãóãóÇÊõåóÇ æóãóÍúíóÇåóÇ¡ Åöäú ÃóÍúíóíúÊóåóÇ ÝóÇÍúÝóÙúåóÇ¡ æóÅöäú ÃóãóÊøóåóÇ ÝóÇÛúÝöÑú áóåóÇ. Çóááøóåõãøó Åöäøöíú ÃóÓúÃóáõßó ÇáúÚóÇÝöíóÉó.

103. “Ya Allah! Sesungguhnya Engkau menciptakan diriku, dan Engkaulah yang akan mematikannya. Mati dan hidupnya hanya milikMu. Apabila Engkau meng-hidupkannya, maka peliharalah. Apabila Engkau mematikannya, maka ampuni-lah. Ya Allah! Sesungguhnya aku me-mohon kepadaMu keselamatan.”

104- Çóááøóåõãøó Þöäöíú ÚóÐóÇÈóßó íóæúãó ÊóÈúÚóËõ ÚöÈóÇÏóßó. (3×)

104. “Ya Allah! Jauhkanlah aku dari siksaanMu pada hari Engkau mem-bangkitkan hamba-hambaMu.” (Dibaca tiga kali).

105- ÈöÇÓúãößó Çááøóåõãøó ÃóãõæúÊõ æóÃóÍúíóÇ.

105. “Dengan namaMu, ya Allah! Aku mati dan hidup.”

106- ÓõÈúÍóÇäó Çááåö (33×) æóÇáúÍóãúÏõ áöáøóåö (33×) æóÇááåõ ÃóßúÈóÑõ (33×).

“Maha Suci Allah (33 x), Segala puji bagi Allah (33 x), Allah Maha Besar (33 x).”

107- Çóááøóåõãøó ÑóÈøó ÇáÓøóãóÇæóÇÊö ÇáÓøóÈúÚö æóÑóÈøó ÇáúÚóÑúÔö ÇáúÚóÙöíúãö¡ ÑóÈøóäóÇ æóÑóÈøó ßõáøö ÔóíúÁò¡ ÝóÇáöÞó ÇáúÍóÈøö æóÇáäøóæóì¡ æóãõäúÒöáó ÇáÊøóæúÑóÇÉö æóÇúáÅöäúÌöíúáö æóÇáúÝõÑúÞóÇäö¡ ÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäú ÔóÑøö ßõáøö ÔóíúÁò ÃóäúÊó ÂÎöÐñ ÈöäóÇÕöíóÊöåö. Çóááøóåõãøó ÃóäúÊó ÇúáÃóæøóáõ ÝóáóíúÓó ÞóÈúáóßó ÔóíúÁñ¡ æóÃóäúÊó ÇúáÂÎöÑõ ÝóáóíúÓó ÈóÚúÏóßó ÔóíúÁñ¡ æóÃóäúÊó ÇáÙøóÇåöÑõ ÝóáóíúÓó ÝóæúÞóßó ÔóíúÁñ¡ æóÃóäúÊó ÇáúÈóÇØöäõ ÝóáóíúÓó Ïõæúäóßó ÔóíúÁñ¡ ÇÞúÖö ÚóäøóÇ ÇáÏøóíúäó æóÃóÛúäöäóÇ ãöäó ÇáúÝóÞúÑö.

107. “Ya Allah, Tuhan yang menguasai langit yang tujuh, Tuhan yang mengua-sai arasy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu. Tuhan yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Tuhan yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau meme-gang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkau-lah yang pertama, sebelumMu tidak ada sesuatu. Engkaulah yang terakhir, setelahMu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang Zhahir, tidak ada sesuatu di atasMu, Engkau-lah yang Batin, tidak ada sesuatu yang menghalangiMu, lunasilah utang kami dan berilah kami kekayaan hingga terlepas dari kefa-kiran.”

108- ÇáúÍóãúÏõ áöáøóåö ÇáøóÐöíú ÃóØúÚóãóäóÇ æóÓóÞóÇäóÇ æóßóÝóÇäóÇ æóÂæóÇäóÇ¡ Ýóßóãú ãöãøóäú áÇó ßóÇÝöíó áóåõ æóáÇó ãõÄúæöíó.

108. “Segala puji bagi Allah yang memberi makan kami, memberi minum kami, mencukupi kami, dan memberi tempat berteduh. Berapa banyak orang yang tidak mendapatkan siapa yang memberi kecukupan dan tempat ber-teduh.”

109- Çóááøóåõãøó ÚóÇáöãó ÇáúÛóíúÈö æóÇáÔøóåóÇÏóÉö ÝóÇØöÑó ÇáÓøóãóÇæóÇÊö æóÇúáÃóÑúÖö¡ ÑóÈøó ßõáøö ÔóíúÁò æóãóáöíúßóåõ¡ ÃóÔúåóÏõ Ãóäú áÇó ÅöáóÜåó ÅöáÇøó ÃóäúÊó¡ ÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäú ÔóÑøö äóÝúÓöíú¡ æóãöäú ÔóÑøö ÇáÔøóíúØóÇäö æóÔöÑúßöåö¡ æóÃóäú ÃóÞúÊóÑöÝó Úóáóì äóÝúÓöíú ÓõæúÁðÇ Ãóæú ÃóÌõÑøõåõ Åöáóì ãõÓúáöãò.

109. Ya Allah, Tuhan yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Tuhan pencipta langit dan bumi, Tuhan yang menguasai segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan diriku, kejahatan setan dan balatentaranya, atau aku berbuat keje-lekan pada diriku atau aku mendorong-nya kepada seorang Muslim.”

110. Membaca Alif lam mim tanzil As-Sajdah dan Tabaarakal ladzii biyadihil mulku.

111- Çóááøóåõãøó ÃóÓúáóãúÊõ äóÝúÓöíú Åöáóíúßó¡ æóÝóæøóÖúÊõ ÃóãúÑöíú Åöáóíúßó¡ æóæóÌøóåúÊõ æóÌúåöíó Åöáóíúßó¡ æóÃóáúÌóÃúÊõ ÙóåúÑöíú Åöáóíúßó¡ ÑóÛúÈóÉð æóÑóåúÈóÉð Åöáóíúßó¡ áÇó ãóáúÌóÃó æóáÇó ãóäúÌóÇ ãöäúßó ÅöáÇøó Åöáóíúßó¡ ÂãóäúÊõ ÈößöÊóÇÈößó ÇáøóÐöíú ÃóäúÒóáúÊó æóÈöäóÈöíøößó ÇáøóÐöíú ÃóÑúÓóáúÊó.

111. “Ya Allah, aku menyerahkan diri-ku kepadaMu, aku menyerahkan urus-anku kepadaMu, aku menghadapkan wajahku kepadaMu, aku menyandarkan punggungku kepadaMu, karena senang (mendapatkan rahmatMu) dan takut pada (siksaanMu, bila melakukan kesa-lahan). Tidak ada tempat perlindungan dan penyelamatan dari (ancaman)Mu, kecuali kepadaMu. Aku beriman pada kitab yang telah Engkau turunkan, dan (kebenaran) NabiMu yang telah Engkau utus.” Apabila Engkau meninggal dunia (di waktu tidur), maka kamu akan me-ninggal dunia dengan memegang fitrah (agama Islam).

(Bersambung ke Vol III)

(Dikutip dari terjemah Kitab Hisnul Muslim, karya Sa’id Wahf al Qahthani – Edisi Indonesia Kumpulan Doa dari Al Quran dan Hadits)


Membayar Hutang Puasa (Qadha’) Sesegera Mungkin

Agustus 10, 2017

1. Qadha’ (Penunaian, red) tidak wajib segera dilakukan
Ketahuilah wahai sauadaraku se-Islam -mudah-mudahan Allah memberikan pemahaman agama kepada kita- bahwasanya mengqdha’ puasa Ramadhan tidak wajib dilakukan segera, kewajibannya dengan jangka waktu yang luas berdasarkan satu riwayat dari Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anha (yang artinya) : “Aku punya hutang puasa Ramadhan dan tiak bisa mengqadha’nya kecuali di bulan Sya’ban” [Hadits Riwayat Bukhari 4/166, Muslim 1146, Dikatakan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Tamamul Minnah hal.422. setelah membawakan hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Muslim bahwasanya beliau (yakni Aisyah) tidak mampu dan tidak dapat mengqadha’ pada bulan sebelum Sya’ban, dan hal ini menunjukkan bahwa beliau kalaulah mampu niscaya dia tidak akan mengahhirkan qadha’ (sampai pada ucapan Syaikh) maka menjadi tersamar atasnya bahwa ketidakmampuan Aisyah adalah merupakan udzur (alasan) Maka perhatikanlah, -pent]

Berkata Al-Hafidz di dalam Al-Fath 4/191 : “Dalam hadits ini sebagai dalil atas bolehnya mengakhirkan qadha’ Ramadhan secara mutlak, baik karena udzur ataupun tidak”.

Sudah diketahui dengan jelas bahwa bersegera dalam mengqadha’ lebih baik daripada mengakhirkannya, karena masuk dalam keumuman dalil yang menunjukkan untuk bersegera dalam berbuat baik dan tidak menunda-nunda, hal ini didasarkan ayat dalam Al-Qur’an (yang artinya) : “Bersegeralah kalian untuk mendapatkan ampunan dari Rabb kalian” [Ali Imran : 133]

Firman ALLAH (yang artinya) : “Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya” [Al-Mu’minuun : 61]

2. Tidak wajib berturut-turut dalam mengqadha’ karena ingin menyamakan dengan sifat penunaiannya.

Berdasarkan firman Allah pada surah Al-Baqarah ayat 185 (yang artinya) : “Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”.

Dan Ibnu Abbas berkata : (yang artinya) : “Tidak mengapa dipisah-pisah (tidak berturut-turut)” [Dibawakan oleh Bukhari secara mu’allaq, dimaushulkan oleh Abdur Razak, Daruquthni, Ibnu Abi Syaibah dengan sanad Shahih. Lihat Ta’ghliqut Ta’liq (3/186).

Abu Hurairah berkata : “Diselang-selingi kalau mau” [Lihat Irwaul Ghalil 4/95]

Adapun yang diriwayatkan Al-Baihaqi 4/259, Daruquthni 2/191-192 dari jalan Abdurrahman bin Ibrahim dari Al’Ala bin Abdurrahman dari bapaknya dan Abu Hurairah secara marfu’ “Artnya : Barangsiapa yang punya hutang puasa Ramadhan, hendaknya diqadha’ secara berturut-turut tidak boleh memisahnya” Ini adalah riwayat yang Dhaif. Daruquthni bekata : Abdurrahman bin Ibrahim Dhaif.
Al-Baihaqi berkata : Dia (Abdurrahman bin Ibrahim) di dhaifkan oleh Ma’in, Nasa’i dan Daruquthni”.

Ibnu Hajar menukilkan dalam Talkhisul Habir 2/206 dari Abi Hatim bahwa beliau mengingkari hadits ini karena Abdurrahman.

Syaikh kami Al-Albany Rahimahullah telah membuat penjelasan dhaifnya hadits ini dalam Irwa’ul Ghalil no. 943. Adapun yang terdapat dalam Silsilah Hadits Dhaif 2/137 yang terkesan bahwa beliau menghasankannya dia ruju’ dari pendapatnya.

Peringatan.
Kesimpulannya, tidak ada satupun hadits yang marfu’ dan shahih -menurut pengetahuan kami- yang mejelaskan keharusan memisahkan atau secara berturut-turut dalam mengqadha’, namun yang lebih mendekati kebenaran dan mudah (dan tidak memberatkan kaum muslimin, -ed) adalah dibolehkan kedua-duanya. Demikian pendapatnya Imam Ahlus Sunnah Ahmad bin Hanbal Rahimahullah. Abu Dawud berkata dalam Al-Masail-nya hal. 95 : “Aku mendengar Imam Ahmad ditanya tentang qadha’ Ramadhan” Beliau menjawab : “Kalau mau boleh dipisah, kalau mau boleh juga berturut-turut”. Wallahu ‘alam.

Oleh karena itu dibolehkannya memisahkan tidak menafikan dibolehkannya secara berturut-turut.

3. Ulama telah sepakat bahwa barangsiapa yang wafat dan punya hutang shalat, maka walinya apalagi orang lain tidak bisa mengqadha’nya.

Begitu pula orang yang tidak mampu puasa, tidak boleh dipuasakan oleh anaknya selama dia hidup, tapi dia harus mengeluarkan makanan setiap harinya untuk seorang miskin, sebagaimana yang dilakukan Anas dalam satu atsar yang kami bawakan tadi.

Namun barangsiapa yang wafat dalam keadaan mempunyai hutang nadzar puasa, harus dipuasakan oleh walinya berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Barangsiapa yang wafat dan mempunyai hutang puasa nadzar hendaknya diganti oleh walinya” [Bukhari 4/168, Muslim 1147]

Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata : “Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata : “Ya Rasulullah, sesungguhnya ibuku wafat dan dia punya hutang puasa setahun, apakah aku harus membayarnya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Ya, hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar” [Bukhari 4/168, Muslim 1148]

Hadits-hadits umum ini menegaskan disyariatkannya seorang wali untuk puasa (mempuasakan) mayit dengan seluruh macam puasa, demikian pendapat sebagian Syafi’iyah dan madzhabnya Ibnu Hazm (7/2,8).

Tetapi hadits-hadits umum ini dikhususkan, seorang wali tidak puasa untuk mayit kecuali dalam puasa nadzar, demikian pendapat Imam Ahmad seperti yang terdapat dalam Masa’il Imam Ahmad riwayat Abu Dawud hal. 96 dia berkata : Aku mendengar Ahmad bin Hambal berkata : “Tidak berpuasa atas mayit kecuali puasa nadzar”. Abu Dawud berkata, “Puasa Ramadhan ?”. Beliau menjawab, “Memberi makan”.

Inilah yang menenangkan jiwa, melapangkan dan mendinginkan hati, dikuatkan pula oleh pemahaman dalil karena memakai seluruh hadits yang ada tanpa menolak satu haditspun dengan pemahaman yang selamat khususnya hadits yang pertama. Aisyah tidak memahami hadits-hadits tersebut secara mutlak yang mencakup puasa Ramadhan dan lainnya, tetapi dia berpendapat untuk memberi makan (fidyah) sebagai pengganti orang yang tidak puasa Ramadhan, padahal beliau adalah perawi hadits tersebut, dengan dalil riwayat ‘Ammarah bahwasanya ibunya wafat dan punya hutang puasa Ramadhan kemudian dia berkata kepada Aisyah : “Apakah aku harus mengqadha’ puasanya ?” Aisyah menjawab : “Tidak, tetapi bersedekahlah untuknya, setiap harinya setengah gantang untuk setiap muslim”.

Diriwayatkan Thahawi dalam Musykilat Atsar 3/142, Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla 7/4, ini lafadz dalam Al-Muhalla, dengan sanad sahih.

Sudah disepakati bahwa rawi hadits lebih tahu makna riwayat hadits yang ia riwayatkan. Yang berpendapat seperti ini pula adalah Hibrul Ummah Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : “Jika salah seorang dari kalian sakit di bulan Ramadhan kemudian wafat sebelum sempat puasa, dibayarkan fidyah dan tidak perlu qadha’, kalau punya hutang nadzar diqadha’ oleh walinya” Diriwayatkan Abu Dawud dengan sanad shahih dan Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla 7/7, beliau menshahihkan sanadnya.

Sudah maklum bahwa Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma adalah periwayatan hadits kedua, lebih khusus lagi beliau adalah perawi hadits yang menegaskan bahwa wali berpuasa untuk mayit puasa nadzar. Sa’ad bin Ubadah minta fatwa kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ” Ibuku wafat dan beliau punya hutang puasa nadzar?” Beliau bersabda : “Qadha’lah untuknya”. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta lainnya.

Perincian seperti ini sesuai dengan kaidah ushul syari’at sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dalam I’lamul Muwaqi’in dan ditambahkan lagi penjelasannya dalam Tahdzibu Sunan Abi Dawud 3/279-282. (Wajib) atasmu untuk membacanya karena sangat penting. Barangsiapa yang wafat dan punya hutang puasa nadzar dibolehkan diqadha’ oleh beberapa orang sesuai dengan jumlah hutangnya.

Al-Hasan berkata : “Kalau yang mempuasakannya tiga puluh orang seorangnya berpuasa satu hari diperbolehkan”[Bukhari 4/112 secara mu’allaq, dimaushulkan oleh Daruquthni dalam Kitabul Mudabbij, dishahihkan sanadnya oleh Syaikhuna Al-Albany dalam Mukhtashar Shahih Bukhari 1/58] Diperbolehkan juga memberi makan kalau walinya mengumpulkan orang miskin sesuai dengan hutangnya, kemudian mengenyangkan mereka, demikian perbuatan Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu.

Judul Asli : Shifat shaum an Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. Ke 5 th 1416 H. Edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR), penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H


ETIKA BERDO`A

Mei 11, 2013

Terlebih dahulu sebelum berdo`a hendaknya memuji kepada Allah kemudian bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam pernah mendengar seorang lelaki sedang berdo`a di dalam shalatnya, namun ia tidak memuji kepada Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam maka Nabi bersabda kepadanya: “Kamu telah tergesa-gesa wahai orang yang sedang shalat. Apabila anda selesai shalat, lalu kamu duduk, maka memujilah kepada Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, dan bershalawatlah kepadaku, kemudian berdo`alah”. (HR. At-Turmudzi, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Mengakui dosa-dosa, mengakui kekurangan (keteledoran diri) dan merendahkan diri, khusyu’, penuh harapan dan rasa takut kepada Allah di saat anda berdo`a. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera di dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo`a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu` kepada Kami”. (Al-Anbiya’: 90).

Berwudhu’ sebelum berdo`a, menghadap Kiblat dan mengangkat kedua tangan di saat berdo`a. Di dalam hadits Abu Musa Al-Asy`ari Radhiallaahu anhu disebutkan bahwa setelah Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam selesai melakukan perang Hunain :” Beliau minta air lalu berwudhu, kemudian mengangkat kedua tangannya; dan aku melihat putih kulit ketiak beliau”. (Muttafaq’alaih).

Benar-benar (meminta sangat) di dalam berdo`a dan berbulat tekad di dalam memohon. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila kamu berdo`a kepada Allah, maka bersungguh-sungguhlah di dalam berdo`a, dan jangan ada seorang kamu yang mengatakan :Jika Engkau menghendaki, maka berilah aku”, karena sesungguhnya Allah itu tidak ada yang dapat memaksanya”. Dan di dalam satu riwayat disebutkan: “Akan tetapi hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam memohon dan membesarkan harapan, karena sesungguhnya Allah tidak merasa berat karena sesuatu yang Dia berikan”. (Muttafaq’alaih).

Menghindari do`a buruk terhadap diri sendiri, anak dan harta. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Jangan sekali-kali kamu mendo`akan buruk terhadap diri kamu dan juga terhadap anak-anak kamu dan pula terhadap harta kamu, karena khawatir do`a kamu bertepatan dengan waktu dimana Allah mengabulkan do`amu”. (HR. Muslim).

Merendahkan suara di saat berdo`a. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai sekalian manusia, kasihanilah diri kamu, karena sesungguhnya kamu tidak berdo`a kepada yang tuli dan tidak pula ghaib, sesungguhnya kamu berdo`a (memohon) kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat dan Dia selalu menyertai kamu”. (HR. Al-Bukhari).

Berkonsentrasi di saat berdo`a. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Berdo`alah kamu kepada Allah sedangkan kamu dalam keadaan yakin dikabulkan, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah tidak mengabulkan do`a dari hati yang lalai”. (HR. At-Turmudzi dan dihasankan oleh Al-Albani).

Tidak memaksa bersajak di dalam berdo`a. Ibnu Abbas pernah berkata kepada `Ikrimah: “Lihatlah sajak dari do`amu, lalu hindarilah ia, karena sesungguhnya aku memperhatikan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam dan para shahabatnya tidak melakukan hal tersebut”.(HR. Al-Bukhari)..

[Taken From Kitab “Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari” By : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan]
wallahu’alam


%d blogger menyukai ini: