Benarkah? Fakir Miskin dan Anak Terlantar Dipelihara Negara.


Jakarta, KlikAnggaran.Net- Di negara kita segala sesuatu telah diatur oleh undang-undang. Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) dalam pasal 34 ayat 1 dinyatakan bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.

Mengacu pada bunyi pasal UUD 1945 tersebut, seharusnya tidak ada lagi rakyat di atas bumi pertiwi ini yang masih dalam taraf kehidupan tidak layak, atau berada di garis kemiskinan. Dan, kalaupun masih ada, maka menjadi kewajiban negara melalui pemerintah untuk memelihara dan membuatnya menjadi sejahtera.

Seperti yang tertera dalam pasal 34 ayat 1, 2, dan 3 yaitu :

1)   Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara. ****)

2)   Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. ****)

3)   Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. ****)

Apakah pasal tersebut sudah berjalan dengan baik? Apa tolok ukur pemerintah dalam pencapaian hasil kerja? Bukti kurang berjalannya pasal 34 ayat 1 dalam masyarakat sangat banyak. Salah satunya, yang kasat mata adalah, masih banyaknya anak-anak mengamen, mengemis, mengasong, bahkan mencopet, di sepanjang jalan dan lampu merah, di kolong jembatan dan tempat-tempat lain.

Melesetnya target, terutama angka kemiskinan, bukanlah sesuatu yang bisa dimaklumi. Pasalnya, baik program, badan, maupun anggaran untuk penanggulangan kemiskinan terus meluncur.

Mari kita cermati pasal 34 ayat (1) UUD 1945 berbunyi “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara”. Lalu, kita lihat faktanya. Banyak fakir miskin dan anak terlantar di pinggir jalan, bahkan hampir di seluruh persendian ibukota. Siapa yang memelihara mereka di tengah kekayaan berlimpah di negara ini? Apakah negara tidak melihat kondisi ini? Atau, negara tidak tahu betapa berlimpah ruah anak-anak terlantar yang menjadikan jalanan sebagai tempat mereka hidup?Baiklah mungkin kita lupa atas itu.

Kita alihkan tatap mata ke arah lain, yang juga tersebar hampir di seluruh persendian negara. Ada para koruptor, para mafia pajak, para penghisap keringat rakyat, dan para penghisap kekayaan negara. Bagaimana perlakuan atas mereka? Juga pelaku tindak kejahatan eksekutif lain. Apakah mereka sengsara seperti anak-anak terlantar itu? Tidak. Mereka masih makmur, dan masih dapat tersenyum cemerlang, menikmati indahnya hidup mereka.

Undang-Undang selayang panjang, di sepanjang sisi jalanan bisu, menatap layu menunggu saat yang tepat membuka mata-mata buta. Layaknya pelari yang tak kenal medan, kalian terseok kehabisan tenaga mencapai garis finis, begitulah kinerja kalian. Aneka janji dan target pencapaian yang saat pemilihan digembar-gemborkan, kini kalian katakan sulit dicapai.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: