ciri anak yang aktif dan sehat


Sikecil suka berlari-lari kesana kemari, loncat sana loncat sini, manjat sana manjat sini. Colok sana colok sini. Pencet sana pencet sini🙂 Dikasi mainan cuek, sukanya mengikuti aktivitas orang dewasa. Ada aja yang dilakukannya seakan energinya tidak pernah habis. Sehingga muncul dibenak mama, apakah anakku hiperaktif? Tapi apakah benar anak yang tidak bisa diam itu anak yang hiperaktif? dan bisa dilihat di vidio dibawah ini.

margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;”> Pada usia anak-anak terutama Batita sebenarnya terjadi pertumbuhan yang pesat pada kematangan syaraf dan motoriknya. Rasa ingin tahunya cukup tinggi dan selalu ingin mencoba reaksi dari setiap gerakannya. Di usia inilah peran orang tua sangat menentukan perkembangan anak selanjutnya. Bukan memarahi atau menakuti anak untuk menghentikan aktifitasnya karena justru akan menciptakan prilaku melawan atau sebaliknya anak menjadi penakut dan akhirnya tidak mandiri, tapi bukan juga membiarkan anak untuk melakukan apa saja tanpa batasan.

Sekilas terlihat aktifitas anak yang aktif dan hiperaktif memang sama namun kalau kita mau lihat lebih dalam, perbedaannya jelas sekali. Menurut Niki N. Fitri K.W (psikolog), berikut ciri-ciri yang membedakannya :

Ciri- ciri anak aktif yaitu :

  • Anak aktif mampu memfokuskan perhatian dengan baik. Ketika bermain puzzle mewarnai atau menyusun balok, anak aktif cenderung akan menyelesaikan permainan dengan perhatian penuh.
  • Anak aktif masih bisa diberitahu dan mau mematuhi dengan baik. Asalkan orangtua memberikan alasan dan dengan cara yang tidak memojokkan atau berkesan memarahinya.

  • Anak aktif biasanya lebih kreatif bisa menciptakan permainan baru yang kadang tak pernah kita duga. Contohnya ia bisa membuat bayangan tangan menyerupai burung atau bebek di dinding.

  • Lebih sabar , Anak aktif memiliki kesabaran lebih baik saat diminta untuk menyelesaikan puzzle atau menunggu.

  • Sadar bila Lelah. Anak aktif akan beristirahat dan menghentikan aktifitasnya bila lelah.

  • Memiliki intelegensi yang tinggi Biasanya anak aktif cenderung cerdas dan lebih mandiri

Dan ciri-ciri anak Hiperaktif yaitu :

-Tidak fokus, Anak hiperaktif biasanya tidak bisa bertahan untuk sebuah permainan lebih dari 5 menit.
-Melawan, Anak hiperaktif sulit untuk diberitahu dan akan terus melakukan aktifitas sesuka hatinya. Biasanya ia akan berontak dan melawan.
-Merusak, Anak hiperaktif cenderung merusak. Dalam permainan, ia akan lebih suka membongkar mainan dan memainkannya dengan caranya sendiri.
-Tidak mudah lelah dan tanpa tujuan Anak tidak pernah lelah dan semua aktifitasnya lebih bayak tanpa tujuan jelas.
-Tidak sabar dan cenderung agresif Anak hiperaktif tidak mau menunggu dan sering merebut benda yang dipegang temannya. Ia juga cenderung agresif terhadap teman bermainnya. contoh anak hiperaktif tiba-tiba memukul tanpa sebab dan ia cuek setelahnya.
-Intelegensi rendah , Anak hiperaktif kurang kreatif karena kecerdasannya cenderung dibawah anak-anak normal.

Terlihat jelas kan perbedaannya. Makanya jangan terburu-buru mengatakan apalagi melabelkan anak Mama sebagai anak yang hiperaktif.

Nah, setelah tahu bahwa anak kita termasuk anak aktif. Trus apa yang bisa kita lakukan?

Memiliki anak aktif tidak perlu membuat para orangtua pusing. Saatnya kita mengetahui trik menghadapi anak aktif agar ia bisa tumbuh menjadi anak berkualitas.

Cara Menghadapi anak aktif agar tumbuh menjadi anak yang berkualitas :

1.Mintalah ia untuk memimpin sesuatu. Buat kerangka kegiatan beserta aturannya sebelum kegiatan dimulai. Dengan demikian, energi yang berlimpah dapat mengalir dengan leluasa tanpa membawanya ke suatu masalah.

2.Pada anak aktif, dia sangat perlu merasakan bahwa dirinya dibutuhkan dan dapat dipercaya. Oleh karena itu, untuk menyalurkan energinya maka orangtua dapat memberikannya suatu tugas seperti membersihkan tempat tidur atau mencuci sepedanya. Katakan kepadanya bahwa orangtua percaya bahwa ia dapat melakukannya dengan baik. Jika anak berhasil menjalankan sesuatu dengan baik, jangan lupa memberi pujian atas prestasi atau kesuksesannya tersebut.

3.Jika dia berbuat salah, maka maafkanlah. Anak aktif biasanya mempunyai kecenderungan lebih banyak melakukan kesalahan. Dan dia belajar tentang dirinya dari kesalahan.

4.Jangan memberi label anak nakal kepada si kecil yang aktif. Karena akan terdengar sangat negatif dan memojokan anak.

Lalu, menurut Dr. Marilyn Heins, MD, dokter anak dan penulis buku “Parent Tips” dari Amerika Serikat, perilaku aktif anak-anak usia batita yang tak mau diam ini, normal. Rentang perhatian anak usia ini pendek. Namun bila ia menjadi terlalu aktif, bisa jadi karena pola asuh orangtua yang berlebihan memberikan perhatian dan stimulasi.

Di lain pihak, ibu dan ayah jarang membiarkan balita mengerjakan sesuatu dan memecahkan masalah sendiri. Menurut Heins, orangtua jenis ini termasuk tipe overparenting. Apa yang perlu orangtua lakukan?

1.Lakukan kegiatan yang seru setiap hari bersamanya dan pikirkan kegiatan kreatif. Jangan-jangan balita tidak mau diam karena ia bosan dengan kegiatan yang itu-itu saja. Ajak anak berlari di halaman, menari, mengikuti tingkah tokoh Tiger di televisi yang senang melompat-lompat.

2.Izinkan balita membantu pekerjaan rumah tangga. Tidak apa-apa bila ia merebut sapu menyapu lantai atau sibuk mengelap meja bisa membuatnya tenang.

3.Perhatikan mainan yang dapat membuat anak duduk tenang dan fokus. Apakah ia senang memakaikan baju boneka, menyisir rambut boneka dan sebagainya.

4.Melihat balita tampak sangat aktif, Anda bisa mengatakan, “Sayang…, coba diam sebentar Nak.”

5.Jika anak memang tak mau diam, biarkan saja. Yang penting awasi dia agar tidak menyentuh barang-barang berbahaya, misal barang pecah belah, stop kontak dan lain lain.

6.Waktu Main, Waktu Istirahat. Kenalkan balita kegiatan menyalurkan energi dan waktu untuk beristirahat. Jenuh bermain di dalam rumah, lakukan kegiatan outdoor: bersepeda, main ayunan, perosotan dan sepak bola. Saat bermain tetap memperhatikan aturan keamanan.

7.Temukan kegiatan yang anak sukai dan bisa membuatnya lelah. – Balita suka memanjat kursi, biarkan ia naik-turun kursi dengan pengawasan Anda dan pastikan kursinya kuat dinaiki anak. – Ajak anak berenang, ke playground atau main bola di lapangan bola sekali seminggu.

8.Menyediakan sarana bermain outdoor seperti kolam renang plastik, kotak berisi pasir, mainan yang bisa ditumpuk seperti balok-balok bola dan sebagainya.

9.Juga hal lain, misalnya kolam, parit. Sudah selayaknya kita yang tertib dan waspada, beri pagar untuk kolam, dll. Sering juga membaca berita anak kecil masuk kolam tak tertolong jiwanya. Selain kita yang waspada, anak-anak tetap harus diberi tahu bahwa itu berbahaya.

demikian semoga bermanfaat.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: