Saudaraku, Masihkah Engkau Berat untuk Menundukkan Pandangan?


Bismillah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

selamat datang di blog ane semoga tidak bosan dan juga bisa bermanfaat bagai yang membaca artikel di blog ane. kali ini ada sebuah artike yang sangat menarik dan mungkin banyak dikalangan kaum muslim masih banyak yang belum tau atau bahkan sudah tau tapi masih belum menjalankan sesuai yang disyariatkan oleh agama islam.tentunyasesuai dengan ajaran islam yang benar. silakan banya artikel dibawah ini semoga bermanfaat.

Saudaraku yang semoga selalu mendapat rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala ….

Kata orang, masa remaja adalah masa penuh gejolak. Masa di mana tidak ingin diatur, diawasi, maupun dibimbing. Inginnya bebas lepas semaunya sendiri, kecuali bagi mereka yang mendapat rahmat dari Allah Yang Maha Rahman.

Banyak hal yang dia ingin ketahui, hingga kadang melewati batas rambu-rambu syariat. Apalagi di zaman sekarang ini, yang semuanya serba mudah untuk bisa dia raih melalui sarana teknologi yang terus berkembang. Bila tidak dibekali ilmu dan iman, tidak mustahil dia akan tergelincir ke lembah kemaksiatan atau bahkan semakin jauh dalam melanggar aturan-aturan Allah ‘Azza wa Jalla.

Barangkali tidak sedikit dari kita yang pernah membaca berita di media massa -atau bahkan melihat sendiri di lingkungan sekitar kita- ada remaja yang tega mencederai temannya atau bahkan dirinya sendiri, akibat kasih tak sampai. Awal petaka ini bisa jadi karena diumbarnya mata dalam memandang yang tidak semestinya, yang tidak halal baginya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam syairnya:

Setiap bencana berawal dari pandangan mata,

Sebagaimana api yang besar berasal dari percikan bara.

Berapa banyak pandangan sanggup menembus relung hati,

Seperti kekuatan anak panah yang lepas dari busur tali.

Seorang hamba, selama mengumbar pandangannya untuk memandang selainnya,

Maka dia berada dalam bahaya.

Ia menyenangkan mata dengan sesuatu yang membahayakan hatinya,

Maka janganlah menyambut kesenangan yang akan membawa bencana.

Saudaraku ….

Demikianlah bencana yang ditimbulkan oleh pandangan. Ia akan mewariskan penyesalan, menghadirkan malapetaka, dan membakar nafsu.

Tatkala seorang hamba melihat suatu perkara yang tidak mampu diraihnya, juga tidak mampu bersabar atasnya, sesungguhnya hal ini merupakan siksaan yang paling pedih. Betapa banyak orang yang mengumbar pandangannya dan tidak menghentikan perbuatan ini. Dia terbunuh oleh pandangannya sendiri, sebagaimana dikatakan dalam syair:

Wahai orang yang tidak menghentikan pandangannya,

Hingga dia terbunuh di antara pandangan-pandangannya.

Ia bosan dengan keselamatan lalu mengumbar pandangannya,

Sambil berdiri di atas puing-puing yang disangkanya rupawan.

Ia masih terus mengumbar pandangannya,

Hingga dia terbunuh diantara pandangan-pandangannya.

Pandangan juga merupakan pemandu dan utusan syahwat. Oleh karena itu, menjaga pandangan merupakan pondasi dari memelihara kemaluan. Barangsiapa yang mengumbar pandangannya berarti dia telah menggiring dirinya ke tempat-tempat kebinasaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

لاَتُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ, فَإِنَّمَا لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الأَخِيْرَةُ

“Janganlah kamu mengikutkan pandangan dengan pandangan berikutnya. Sebab hanya pandangan pertama saja yang dibolehkan bagimu, tidak untuk pandangan setelahnya.”

(HR Abu Daud, no. 2149; At-Tirmidzi, no. 2777; Ahmad, V:353 dan V:357; dan Baihaqi, VII:90; dari Buraidah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

النَّظْرَةُ سَهْمٌ مَسْمُوْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيْسَ، فَمَنْ غَضَّ بَصَرَهُ عَنْ مَحَاسِنِ امْرَأَةٍ لله أَوْرَثَ الله قَلْبَهُ حَلاَوَةً إِلىَ يَوْمِ يَلْقَاهُ

“Pandangan merupakan anak panah beracun dari anak-anak panah iblis. Maka barang siapa yang menahan pandangannya dari kecantikan seorang wanita karena Allah, niscaya Allah akan mewariskan rasa manis dalam hatinya sampai hari pertemuan dengan-Nya.” (HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrak,V:313; Al-Qudha’i dalam Musnad Asy-Syihab, no. 292; dan Ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa, hlm.13; dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu. Juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, no. 10362 dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Diriwayatkan pula oleh Ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa, hlm. 140 dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu)

Saudaraku ….

Betapa indah dan telah sempurnanya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Segala hal yang akan mendatangkan kebaikan bagi umatnya telah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan dan segala hal yang akan membahayakan bagi umatnya-pun telah beliau peringatkan. Sebagaimana yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan,

إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوْسَ عَلىَ الطُّرُقَاتِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ الله, مَجَالِسُنَا، مَا لَنَا بُدٌّ مِنْهَا. قَالَ: فَإِنْ كُنْتُمْ لاَ بُدَّ فَاعِلِيْنَ فَأَعْطُوْا الطَّرِيْقَ حَقَّهُ، قَالُوْا: وَمَا حَقَّهُ؟ قَالَ: غَضُّ البَصَرِ وَكَفُّ الأَذَى وَرَدُّ السَّلاَمِ

“’Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan-jalan.’

Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, itu tempat kumpul kami. Kami tidak dapat meninggalkannya.’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Jika kalian harus melakukan hal itu, berikan kepada jalan itu haknya.’

Para sahabat bertanya, ‘ Apakah haknya?’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Menundukkan pandangan, menghilangkan gangguan, dan menjawab salam.’” (HR Al-Bukhari, no.6229; Muslim, no.2121)

Mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk menundukkan pandangan saat duduk-duduk di pinggir jalan? Hal ini tidak lain karena pandangan merupakan pangkal dari segala bencana yang menimpa manusia.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan, ”Pandangan merupakan pangkal bencana yang menimpa manusia. Sesungguhnya pandangan akan melahirkan lintasan dalam hati. Kemudian lintasan hati akan melahirkan pikiran. Pikiran akan melahirkan syahwat. Syahwat membangkitkan keinginan. Kemudian keinginan itu menjadi kuat, dan berubah menjadi tekad yang bulat. Maka apa yang tadinya melintas dalam pikiran menjadi kenyataan, dan itu pasti akan terjadi selama tidak ada yang menghalanginya. Maka sungguh bagus suatu nasihat: kesabaran dalam menundukkan pandangan masih lebih ringan daripada kesabaran dalam menanggung beban sakit setelahnya.”

Semoga Allah Yang Maha Penyayang membimbing kita untuk senantiasa menjaga pandangan agar selamat dalam menapaki sisa-sisa hidup ini. Wallahul Musta’an.

Marji’: Ad-Da’ wa Ad-Dawa’, karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah.

***
Artikel Muslimah.Or.Id
Penulis: Umi Ummu ‘Afifah
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Demikian artikel ini semoga bisa bermanfaat diatas adalah situs / website sumber artikel tersebut.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: