Beberapa Hukum Dalam Berkurban


Pertanyaan: Apakah berkurban wajib atas setiap anggota keluarga, ataukah yang sudah baligh saja? Kapankah waktu menyembelihnya? Apakah disyaratkan bagi yang hendak berkurban untuk tidak memotong kuku atau rambutnya sedikit pun sebelum ia menyembelih? Apabila yang berkurban adalah wanita yang sedang haid, apa yang harus dikerjakan? Dan apa perbedaan antara sembelihan kurban dan sedekah pada momen seperti ini? Berikanlah fatwa kepada kami, semoga Allah membalas anda dengan yang lebih baik.

Jawab:

Hukum berkurban adalah sunah muakkad, yaitu sunah yang sangat ditekankan. Disyariatkan bagi laki-laki maupun perempuan. Satu sembelihan seorang laki-laki cukup untuknya sekaligus seluruh anggota keluarganya. Satu sembelihan seorang perempuan cukup untuknya sekaligus seluruh anggota keluarganya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam setiap tahunnya berkurban dua kambing kibass yang putih belang hitam pada mata dan kakinya, dan bertanduk untuk seluruh keluarga beliau, dan yang kedua untuk ahli tauhid dari umat beliau shallallahu ‘alaihi wassalam.

Waktu penyembelihan pada tanggal 10 Dzulhijjah dan hari-hari tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah) setiap tahunnya. Disunahkan bagi yang berkurban untuk makan sebagian dari binatang kurban sembelihannya, dan menghadiahkan serta menyedekahkan sebagian kepada kerabat dan tetangganya.

Tidak diperbolehkan bagi yang ingin berkurban untuk memotong rambut, kuku, dan kulit arinya sedikit pun setelah masuk bulan Dzulhijjah sampai ia menyembelih. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam yang artinya,

“Apabila masuk bulan Dzulhijjah, dan ingin berkurban, maka janganlah memotong rambut, kuku, dan kulit arinya sedikit pun sampai ia menyembelih.” (HR. Muslim dalam kitab Shahih beliau, dari shahabat Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha)

Adapun wakil yang membantu menyembelih binatang kurban atau pengurus harta wakaf yang sebagiannya binatang kurban, tidak diharuskan untuk tidak memotong rambut, kuku, dan kulit arinya. Karena ia bukanlah seorang yang berkurban (hanya sebagai wakil atau pengurus, red). Syariat ini (memotong kuku dan yang lainnya) khusus bagi yang berkurban, yaitu yang mewakilkan sembelihan tersebut. Demikian pula orang yang wakaf, dialah yang sebenarnya yang berkurban. Maka pengawas wakaf sama dengan wakil sebagai pelaksana, bukan yang berkurban. Wallahu waliyyut taufiq. (Majmu’ Fatawasy Syaikh Ibni Baz rahimahullahu)

MAKAN PAGI DARI DAGING KURBAN

Pertanyaan: Bolehkah orang yang berkurban makan pagi dari daging sembelihannya?

Jawab:

Disunahkan bagi yang menyembelih untuk tidak makan sesuatu pun sampai shalat ‘Idul Adha kemudian menyembelih kurbannya. Setelah itu dia menjadikan daging sembelihan tersebut sebagai makanannya yang pertama dia makan, apabila hal ini mudah dilakukan. Ini adalah pendapat mayoritas ulama mi antaranya: Ali radhiyallahu ‘anhu, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Malik rahimahullahu, Syafi’i rahimahullahu dan yang lainnya.

At-Tirmidzi dan Al-Atsram [1] meriwayatkan dari sahabat Buraidah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Dahulu, biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam tidak berangkat ke tanah lapang pada hari ‘Idul Fitri sampai beliau makan pagi. Beliau juga tidak makan pada Idul Adha sampai selesai shalat Idul Adha.” Dalam riwayat Al-Atsram, “Sampai beliau menyembelih kurbannya.”

Imam Ahmad rahimahullahu mengatakan, “Apabila ia ingin menyembelih maka jangan makan dahulu. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam makan dari sembelihan beliau. Tetapi apabila ia tidak berkurban, boleh baginya makan sebelum atau sesudah shalat Idul Adha.” Wallahu a’lam. (Al-Lajnah Ad-Daimah)

DAGING KURBAN UNTUK ORANG KAFIR

Pertanyaan: Bolehkah memberikan daging kurban kepada orang kafir?

Jawab:

Disunahkan dalam pembagian daging kurban untuk tiga kelompok: Sepertiga untuk yang berkurban, sepertiga untuk saudara, kerabat, dan teman, dan sepertiga untuk nrang miskin. Boleh juga diberikan kepada orang kafir apabila miskin, termasuk kerabat, tetangga, atau dalam rangka melunakkan hati (mencari simpati). (Al-Lajnah Ad-Daimah)

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 09 vol. 01 1432 H-2011 M, hal. 44-46.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: