TEKNIK PEMBENIHAN IKAN JELAWAT (Leptobarbus hoeveni)


I. PENDAHULUAN
Ikan jelawat adalah asli ikan Indonesia yang tedapat di beberapa sungai di Sumatra dan Kalimanatan. Ikan ini merupakan jenis ikan ekonomis penting yang sangat digemari masyarakat Indonesia dan bahkan beberapa Negara Tetangga, sehingga merupakn komoditas yang sangat potensia untuk dikembangkan.
Meskipun pemeliharaan ikan jelawat sudah lama dlakukan namun posakan benih sepenuhnya masih mengandakan hasil penangkapan di perairan umum yang dilakukan pada musim hujan. Jenis ikan ini berkembang biak di sungai pada permualaan musim hujan dan benih yang didapat tersedia secara musiman. Karena benih mangadalkan hasil penangkapan di perairan mum, maka lama-kelamaan akan terjadi ketidak seimbangan lingkungan perairan umum disamping kurang terjaminnya kontinyuitas pasokan benih untuk budidaya.
Melihat aspek kebutuhan benih yang masih mengandalkan alam, maka penguasaan teknologi pembenihan jenis ikan ini merupakan yang perlu diaktifkan dan ini juga merupaka peluang usaha yang dapat menghasilkan keuntungan yng cukup besar.

Ikan Jelawat
(Leptobarbus hoeveni)

II. TEKNOLOGI PEMBENIHAN
Pematangan gonad:
Induk dipelihara dalam kolam khusus berukuran 500 – 700 m2 dan penebaram 0,1 – 0,25 kg/m2.
Selama pemeliharaan induk diberi pakan pellet dengan kandungan protein 25 – 28 %.
Pakan diberikan sebanyak 3 % dari berat badan frekwensi 2 – 3 x perhari.
Selain pellet diberikan juga pakan berupa hijauan seperti daun singkong secukupnya.
Lama pemeliharaan induk ± 8 bulan.
Induk yang siap pijah diperoleh dengan cara seleksi.

Pemijahan
Pemijahan ikan jelawat ini dapat dilakukan secara alami dan buatan. Dalam teknologi ini dilakukan pemijahan buatan :
Induk terseleksi perlu diberokan selama satu hari.
Penyuntikan hormone HCG dan kelenjar hipofisa terhadap induk betina dilakukan 2 x.
1. Penyutikan 1 (P1) : 1 dosis kelenjar hipofisa ditambah 200 IU HCG /induk betina.
2. Penyuntikan 2 (P2) : 2 dosis kelenjar hipofisa ditambah 300 IU HCG/induk betina.
Selang waktu antara P1 dan P2, 5 – 6 jam.
Ovulasi terjadi antara 10 – 12 jam dari P1.
Telur dan sperma dikeluarkan dengan cara di urut.
Pembuahan telur dilakukan dengan mencapurkan sperma dan telur di baskom plastic.
Jika telur telah mengembang siap untuk disimpan di wadah penetasan.
III. PENETASAN
Padat tebar 400 – 500 butir telur/liter.
Selama penetasan air harus dijaga kualitasnya (O2 4 – 8 ppm; pH 7,0 – 8,0; suhu 25 – 28O C).
Pada suhu air 25 – 28O C telur akan menetas 18 – 24 jam setelah pembuahan.

IV. PEMELIHARAAN LARVA
Larva dipelihara langsung ditempat penetasan telur.
Cakang dan telur yang tidak menetas dibersihkan degan cara penyiponan.
Hari ketiga larva diberi larva nauplii artemia (baru menetas) secukupnya.
Pemberian pakan tiga kali sehari (pagi, siang, dan sore).
Hari ke tujuh setelah penetasan benih ikan siap didederkan di kolam.
V. PENDEDERAN
Persiapan kolam meliputi pengeringan selama kolam 2 – 3 hari, perbaikan pematang, pembuatan saluran tengah (kemalir) dan pemupupukan dengan pupuk kandang sebanyak 500 – 700 gram/m2. Kolam diisi air sampai ketinggian 50 – 100 cm pada saluran pemasukan dipasang saringan berupa hapa halus untuk menghindari masuknya ikan liar.
Benih ditebar 3 hari setelah pengisian air kolam dengan padat penebaran 100 – 150 ekor/m2.
Benih ikan diberi pakan tepung hancuran pellet dengan dosisi 10 – 20 % perhari yang mengandung ± 25 % protein.
Lama pemeliharaan 2 – 3 minggu.
Benih yang dihasilkan berukuran 2 – 3 cm dan siap untuk pendederan lanjutan.
Sumber :
DIREKTORAT PEMBENIHAN
DITJEN PERIKANAN BUDIDAYA

Jn Hartono RM No.3 Gdg B lantai 5
Ragunan Pasar Minggu Jakarta Selatan
Telp, : (021) 7815630
http://www.benih-ikan or,id
E-mail :
infobenih@yahoo,com

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: