IKAN MAS MAJALAYA (Cyprinus carpio L)


I. PENDAHULUAN
Ikan Mas (Cyprinus carpio L) adalah salah satu jenis ikan budidaya air tawar yang paling banyak dibudidayakan petani baik budidaya pembenihan, pembesaran di kolam pekarangan ataupun air deras (Running Waer). Produksi ikan mas dapat mencapai di atas rata-rata ikan konsumsi lainnya. Dikalangan petani maupun masyarakat, ikan mas telah lama dikenal dan disukai (dikonsumsi) sehingga pemasaranya tidaklah sulit. Selain itu sebagai ikan budidaya ikan mas memiliki keunggulan yaitu dapat dikembangbiakan hanya dengan perbaikan lingkungan atau menipulasi lingkungan dan kawin suntik (Hyphofisa).
Varietas majalaya merupakan ikan mas yang paling banyak dibudidayakan karena memiliki keunggulan-keunggulan baik secara fisik, fisiologis maupun genetik. Ikan ini pertama dikembangkan di daerah Majalaya, Bandung, merupakan hasil seleksi Bapak H. Ayub. Informasi pertama adanya varietas ini berasal dari Bapak H. Ajin sebagai petugas perikanan Kecamatan Majalaya. kemudian pada tahun 1974 varietas ini mulai diteliti oleh Lembaga Peneltian Perikanan Darat (kini Balai Penelitian Perikanan Air Tawar) dan dikembangkan oleh Pangkalan Budidaya Air Tawar (kini Balai Budidaya Air Tawar) serta Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor.
Ikan mas majalaya mulai dikenal luas oleh masyarakat pada tahun 1975 melalui budidaya intensif kolam air deras dan saat ini tersebar dihampir setiap seluruh wilayah Indonesia sebagai ikan konsumsi. Pelepasan varietas ikan ini diajukan berdasarkan hasil-hasil penelitian ke-tiga institusi tersebut di atas.

II. DESKRISPI IKAN MAS
Di Indonesia, ikan mas (Cyprinus carpio L.) sudah lama dikenal dan dikembangkan oleh para petani. Beberapa strain ikan mas yang dikenal oleh masyarakat antara lain Majalaya, Sinyonya, Punten, Mas Kaca, Kancra Domas, Merah Cangkringan dan lain-lain.
1. Sistematika
Dalam ilmu taksonomi hewan, klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut :
Kelas : Pisces
Sub kelas : Telesostei
Ordo : Ostariophysi
Sub ordo : Cyprinoidea
Family : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Species : Cyprinus carpio L.
2. Ciri-Ciri Morfologi
Ciri-ciri ikas mas majalaya yang sering dijumpai di masyarakat dewasa ini adalah sisiknya berwarna hijau keabu-abuan dengan tepi sisik lebih gelap. Punggung tinggi dan badannya relative pendek. Baggian kuduk atas antara kepala dan punggung melekuk. Penampang melintang badan kian menipis kea rah punggung, lebih tipis dari ras lainnya. Gerakannya lamban, bila diberi makanan suka berenang pada permukaan air. Perbandingan panjang badan dengan badan antara 3 : 2 : 1.
3. Kebiasaan Hidup dan Kebiasaan Makan
Kebiasaan hidup ikan mas, biasanya memijah pada perairan dangkal, setelah mengalami kekeringan musim kemarau dan menempelkan seluruh telurnya pada tanaman atau rerumputan di tepian perairan. Ikan dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada ketinggian antara 150 – 1.000 meter diatas permukaan laut, suhu air 200 – 250C, pH air antara 7-8. Ikan mas sering mencari makanan (jasad-jasad renik) disekeliling pematang. Oleh karena itu pematang serig rusak dan longsor, ikan mas juga suka mengaduk-aduk dasar kolam untuk mencari makanan yang bias dimanfaatkan seperti larva insecta, cacing-caingan dan lain sebagainya.
4. Kebiasaan Memijah
• Memijah pada malam hari (lewat jam 00.00 – pagi hari)
• Tidak memelihara telur
• Sifat telur mempel pada substrat (adhesip)
• Jumlah telur yang dikeluarkan berkisar antara 20-25 % dari bobot berat induk dengan diameter 2-3 ml.
• Jumlah telur berkisar antara 80.000-100.000 butir/100 grm.
• Daya tetas (HR) 80-90 %, menetas selama 48-60 jam setelah memijah.
• Kuning telur habis 3 hari setelah penetasan atau setelah 5 hari pemijhan
• Menghendaki suhu 26-30o¬C.
• Setelah 5 hari dari pemijahan dapat ditebarkan di kolam pendederan

III. TEKNIK PEMBENIHAN
A. Persiapan Sarana dan Prasana
1. Kolam
Lokasi kolam dicari yang dekat dengan sumber air dan bebas banjir. Kolam dibangun di lahan yang landai dengan kemiringan 2–5% sehingga memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
a) Kolam pemeliharaan induk
Luas kolam tergantung jumlah induk dan intensitas pengelolaannya. Sebagai contoh untuk 100 kg induk memerlukan kolam seluas 500 meter persegi bila hanya mengandalkan pakan alami dan dedak. Sedangkan bila diberi pakan pelet, maka untuk 100 kg induk memerlukan luas 150-200 meter persegi saja. Bentuk kolam sebaiknya persegi panjang dengan dinding bisa ditembok atau kolam tanah dengan dilapisi anyaman bambu bagian dalamnya. Pintu pemasukan air bisa dengan paralon dan dipasang sarinya, sedangkan untuk pengeluaran air sebaiknya berbentuk monik.
b) Kolam pemijahan
Tempat pemijahan dapat berupa kolam tanah atau bak tembok. Ukuran/luas kolam pemijahan tergantung jumlah induk yang dipijahkan dengan bentuk kolam empat persegi panjang. Sebagai patokan bahwa untuk 1 ekor induk dengan berat 3 kg memerlukan luas kolam sekitar 18 m2 dengan 18 buah ijuk/kakaban. Dasar kolam dibuat miring kearah pembuangan, untuk menjamin agar dasar kolam dapat dikeringkan. Pintu pemasukan bisa dengan pralon dan pengeluarannya bisa juga memakai pralon (kalau ukuran kolam kecil) atau pintu monik. Bentuk kolam penetasan pada dasarnya sama dengan kolam pemijahan dan seringkali juga untuk penetasan menggunakan kolam pemijahan. Pada kolam penetasan diusahakan agar air yang masuk dapat menyebar ke daerah yang ada telurnya.
c) Kolam pendederan
Bentuk kolam pendederan yang baik adalah segi empat. Untuk kegiatan pendederan ini biasanya ada beberapa kolam yaitu pendederan pertama dengan luas 25-500 m2 dan pendederan lanjutan 500-1000 m2 per petak. Pemasukan air bisa dengan pralon dan pengeluaran/ pembuangan dengan pintu berbentuk monik. Dasar kolam dibuatkan kemalir (saluran dasar) dan di dekat pintu pengeluaran dibuat kubangan. Fungsi kemalir adalah tempat berkumpulnya benih saat panen dan kubangan untuk memudahkan penangkapan benih. dasar kolam dibuat miring ke arah pembuangan. Petak tambahan air yang mempunyai kekeruhan tinggi (air sungai) maka perlu dibuat bak pengendapan dan bak penyaringan.
2. Peralatan
Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan mas diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu untuk menampung sementara induk maupun benih), seser, ember-ember, baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar (kg), cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar kekeruhan.
Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan mas antara lain adalah warring/scoopnet yang halus, ayakan panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat penempelan telur yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan penyabetan dari alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib (untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk menangkap ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi), scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas), seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).
3. Persiapan Media
Persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dlsb. Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi, diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing dengan dosis 50-700 gram/meter persegi, bisa juga ditambahkan pupuk buatan yang berupa urea dan TSP masing-masing dengan dosis 15 gram dan 10 gram/meter persegi.
B. Seleksi Induk
a. ciri-ciri induk yang baik
Memilih induk yang baik merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produksi benih. Oleh karena itu pemilihan calon induk yang akan dijodohkan harus dilakukan bengan baik dan benar. Dengan semakin meningkatnya teknologi budidaya ikan, khususnya teknologi pembenihan maka dilaksanakan penggunaan induk-induk yang berkualitas baik. Adapun ciri-ciri induk jantan dan induk betina unggul yang sudah matang untuk dipijah adalah sebagai berikut:
1. Umur
Sebagai patokan, umur induk yang pantas dikawinkan berkisar antara 1,5 – 2 tahun bagi betina dengan berat berkisar 2 kg lebih/ekor. Sedangkan ikan mas pejantan mencapai matang kelamin minimum 8 bulan dengan berat berkisar 0,5 kg/ekor.
2. Bentuk Badan
Bentuk badan keseluruhan mulai ujung mulut sampai ujung sirip ekor harus mulus, sehat, badan dan sirip-siripnya tidak cacat. Selain itu juga garis sisik (linea lateralis) kedua sisi tubuh posisinya sama, tidak ada lekukan atau patahan.
3. Kepala
Bagian kepala induk ikan mas relatif lebih kecil daripada bagian badannya. Tutup insang normal, tidak terlalu tebal hingga berkesan menggembung. Setiap sisi ujung moncong mulut bibir atas mempunyai kumis (barbel), yang perlu diperhatikan adalah matanya.
4. Sisik
Sisik induk yang tersusun secara teratur dan ukurannya relatif besar. Sisik yang terlihat kusam atau tidak cerah menandakan ia kurang baik atau terlalu tua.
5. Pangkal Ekor
Pangkal ekor yang baik harus kuat dan normal, tidak memendek atau melengkung. Perbandingan panjang pangkal ekor dengan lebar atau tingginya harus lebih panjang.
b. Ciri-Ciri Induk Betina Siap Mijah
 Badan terutama perut membesar atau bucit kearah anus
 Bila diraba terasa lembek
 Lubang urogenital bengkak dan kemerah-merahan
 Pada malam hari biasanya meloncat-loncat di atas permukaan air
 Jika perut diurut, akan mengeluarkan cairan berwarna kuning
 Gerakannya lamban, memberi kesan malas bergerak.
c. Ciri-Ciri Induk Jantan Siap Mijah
 Badannya tampak ramping atau landing
 Gerakannya lincah dan gesit
 Jika bagian perut diurut secara manual kearah lubang urogenital akan mengeluarkan cairan putih (sperma) seperti santan kelapa.

C. Pemijahan
Pemijahan secara tradisional cara Cimindi :
(1) Luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam penetasan;
(2) Disediakan injuk untuk menepelkan telur, ijuk dijepit bambu dan diletakkan dipojok kolam dan dibatasi pematang antara dari tanah;
(3) Pemijahan biasanya terjadi pada jam 23.00 samapai subuh. Saat mengadakan pemijahan biasanya dengan kejar-kejaran diantara induk. Adakalanya induk betina loncat karena terus kepepet oleh jantan.
(4) Induk betina yang sudah kebelet akan mengeluarkan telurnya dan akan segera dibuahi oleh sperma sambil kejar-kejaran.
D. Penetesan Telur
Begitu proses pemijahan berakhir, kakaban diangkat dan direndam dulu dengan larutan obat malachite green, dosis 1 gram/m3air selama 10-15 menit. Setelah dilakukan perendaman, kakaban dimasukan kedalam kolam penetasan telur. Selama proses penetasan telur sirkulasi air berjalan dengan baik dan air yan masuk berjalan secara perlahan. Biarkan sampai telur-telur ikan menetas menjadi benih dalam waktu kurang lebih 2-3 hari.
E. Perawatan Larva
Setelah telur menetas semua dalam tempo 2-3 hari , maka tindakan selanjutnya adalah :
– Mengangkat kakaban satu persatu dilakukan dengan secara hati-hati agar kualitas air tetap baik.
– Larva yang baru menetas belum perlu diberikan pakan, karena masih mempunyai cadangan makanan berupa kantong kuning telur.
– Setelah cadangan makanan habis, maka diberi rotifera dan kuning telur.. Sebutir kuning telur untuk 100.000 ekor benih. Perawatan larva 4-5 hari. Jumlah larva yang dihasilkan dari 1 kg induk betina mencapai 40.000-60.000 ekor.
F. Pendederan
Pendederan atau pemeliharaan anak ikan mas dilakukan setelah telur-telur hasil pemijahan menetas. Kegiatan ini dilakukan pada kolam pendederan (luas 200-500 meter persegi) yang sudah siap menerima anak ikan dimana kolam tersebut dikeringkan terlebih dahulu serta dibersihkan dari ikan-ikan liar. Kolam diberi kapur dan dipupuk sesuai ketentuan. Begitu pula dengan pemberian pakan untuk bibit diseuaikan dengan ketentuan.
Pendederan ikan mas dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu:
a) Tahap I: umur benih yang disebar sekitar 5-7 hari(ukuran1-1,5 cm); jumlah benih yang disebar=100-200 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 2-3 cm.
b) Tahap II: umur benih setelah tahap I selesai; jumlah benih yang disebar=50-75 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 3-5 cm.
c) Tahap III: umur benih setelah tahap II selesai; jumlah benih yang disebar = 25-50 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 5-8 cm; perlu penambahan makanan berupa dedak halus 3-5% dari jumlah bobot benih.
d) Tahap IV: umur benih setelah tahap III selesai; jumlah benih yang disebar = 3-5 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 8-12 cm; perlu penambahan makanan berupa dedak halus 3-5% dari jumlah bobot benih.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: