TEKNIK PEMBENIHAN SECARA ALAMI DAN BUATAN


TEKNIK PEMBENIHAN SECARA ALAMI DAN BUATAN

1 Seleksi Induk

Induk betina dengan bobot 17,5 gr dengan panjang sekitar 85 mm. Ikan jantan berbobot sekitar 6,5 gr dan panjang sekitar 6,5 mm. Perbandingan jantan dan betina adalah 1:1 untuk pemijahan secara buatan, tetapi untuk pemijahan secara alami perbandingan jantan dan betina dalah 3:1. pematangan gonat terjadi secara alami.

2 Pemijahan

a. Pesiapan Wadah
Untuk pemijahan secara buatan menggunakan wadah seperti ember/baskom.atau bak, sedangkan pemijahan secara alami dilakukan dengan menyediakan bubu (diameter 30cm dan panjang 70 cm). Ujung bubu dibungkus dengan kain tricot sebagai wadah perkumpulan telur.

B. Pembuhan telur dengan menggunakan :

– larutan fisiologis terdiri dari 7,98 g NaCI + 0,02 g NaHCO3 dalam 1 liter aquabides {taniguchi et al., 1986} dipakai untuk mengecerkan seperma.
– Larutan pembuahan, terdiri dari 4 g NaCI + 3 g Urea/liter akuabides (Woynarovich dan horvarht,1980).

3.3 Penetasan telur
Alat yang di gunakan dalah corong penetas telur sebagai inkubator dan akuarium ukuran 100 x 50 x 40 cm sebagai kolektor dengan teknik berenang keluar dari incubator, dengan volum air 50 liter.
Pemijahan ikan secara alami dengan cara memasang bubu dengan di lengkapi kain tricot pada suatu aliran air yang di buat tersendiri dengan panjang 15 m, lebar 50 m dan kedalaman air 7 cm serta kecepatan arus 0,8 m/detik. Aliran pemasukan dengan pengeluaran berhubungan dengan sungai. Pemasangan bubu dan kain tricot di lakukan pada sore hari pada pukul16. 00 WIB dan di angkat pada malam harinya sekitar pukul 02.00 WIB. Induk jantan dan betina yang melakukan ruanya untuk memijah akan memasuki aliran air dengan cara melaui kisi pada anyaman bambu.
Selanjutnya ikan bilih menuju pada posisi yang berlawanan dengan waktu memesuki anyaman bambu, karena arus yang datang kuat maka ikan akan masuk kedalam bubu. Di dalam bubu ikan bilih akan melakukan pemijahan. Telur yang terkumpul di dalam wadah pengumpul di bersihkan, di angkut dengan incubator. Telur yang di angkut tersebut di masukan kedalam corong penetasan. Setelah itu induknya di lepas kembali ke sungai.
3.4. Perkembangan dan Pemeliharaan Larva.
Larva ikan bilih yang baru menetas berukuran panjang rata rata 2,5 mm dan bobot rata rata 0,40 mg.
Pada pemeliharaan larva, larva ikan bilis umur dua hari di pindah kedalam bak kayu dengan ukuran 2 x 1 x 0,4 m, diberi pakan spirulina secara ad-libitum mulai hari ketiga sampai hari ke 12. Pemberian pakan di lakukan setiap pukul 06,00; 10,00; 12,00; 16,00; 18,00; 22,00 dan 24,00 WIB.
Larva ikan bilih umur 12 sampai dengan 30 hari di beri pakan artemia salina secara ad-libitum dan umur 30-60 di beri pakan cacing tubifex, setelah itu siap untuk di tebar ke danau.

Sumber :
DIREKTORAT PEMBENIHAN
DITJEN PERIKANAN BUDIDAYA

Jn Hartono RM No.3 Gdg B lantai 5
Ragunan Pasar Minggu Jakarta Selatan
Telp, : (021) 7815630
http://www.benih-ikan or,id
E-mail :infobenih@yahoo,com

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: