Pembenihan gurami


I. PENDAHULUAN

Ikan gurami merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, karena harga jual di pasaran paling baik bila dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya dan fluktuasi harganyapun relatif stabil. Sebagai bahan pangan, daging ikan gurami mengandung gizi yang baik, rasa dagingnya lezat gurih dan tekstur dagingnya tidak lembek.
Ikan gurami secara alamiah melangsungkan pemijahan pada musim kemarau. Bila dipelihara di kolam, ikan gurami tidak terlalu menuntut persyaratan lingkungan hidup yang rumit, sehingga dapat dipelihara di kolam sederhana atau di kolam pekarangan yang berpengairan sedikit. Ransum makannya sebagian besar berupa daun-daunan lunak yang sangat mudah di peroleh di sekitar lingkungan pemukiman.
Beberapa kemudahan tersebut merupakan keunggulan tersendiri dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lainnya, sebab ongkos pemeliharaan, khususnya pemberian pakan yang berupa dedaunan, relatif murah dan mudah didapat. Ikan gurami juga memiliki ketahanan tubuh yang baik dari berbagai macam penyakit, lebih-lebih bila lingkungan pemeliharaannya diperhatikan.
Pertumbuhan badannya memang relatif lambat, hal ini berkitan dengan faktor kebakaan, kebiasaan dan lingkungan hidupnya yang spesifik, sehingga beberapa pendapat mengatakan bahwa ikan gurami tidak dapat dipelihara secara intensif. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa ikan gurami cukup responsive terhadap makanan buatan dan sangat kerasan apabila dipelihara dikolam-kolam modern, sehingga kemungkinan untuk dibudidayakan secara intensif tidaklah mustahil.

II. MENGENAL IKAN GURAMI

A. Ciri-ciri Morfologi
Ikan gurami (Osphronemus gouramy) mempunyai bentuk badan agak panjang, lebar atau pipih kesamping (compressed), badan tertutup sisik yang besar-besar, terlihat kasar dan kuat. Pada bagian kepala dari gurami muda berbentuk lancip dan akan menjadi dempak bila sudah besar dan terdapat tonjolan seperti cula pada bagian kepala ikan jantan yang sudah tua. Mulutnya kecil dan bibir bagian bawah sedikit lebih maju daripada bibir atas dan dapat disembulkan.
Warna badan pada umumnya biru kehitam-hitaman dan bagian perut berwarna putih. Warna tersebut akan berubah menjelang dewasa, yakni pada bagian punggung berwarna kecoklat-coklatan dan bagian perut berwarna ke perak-perakan atau ke kuning-kuningan. Pada ikan gurami muda terdapat garis-garis tegak berwarna hitam berjumlah 7-8 buah dan garis-garis ini akan hilang ketika gurami dewasa.
Jari-jari pertama dari sirip perut merupakan benang yang panjang yang berfungsi sebagai alat peraba. Ujung sirip punggung dan ujung sirip dubur dapat mencapai pangkal ekor. Sirip ekor berbentuk busur (rounded). Pada dasar sirip dada dari gurami betina terdapat tanda hitam dan di depan pangkal ekor terdapat tanda sebuah lingkaran hitam (black spot).
Ikan gurami dapat tumbuh mencapai 65 cm dan berat badan lebih dari 10 kg. Di Jawa ikan ini dikenal dengan nama gurame, grameh atau brami. Di Sumatera dikenal sebagai ikan kalui dan di Kalimantan di kenal sebagai ikan kali. Selain gurami angsa yang ukurannya besar ada pula varietas gurami Jepun yang ukurannya lebih kecil.
Dalam kerajaan hewan (animal kingdom), ikan gurami di klasifikasikan sbb:
Klas : Pisces
Sub Klas : Teleostei
Ordo : Labyrinthici
Sub Ordo : Anabantoidae
Famili : Anabantidae
Genus : Osphronemus
Species : Osphronemus gouramy (Lac)

B. Kebiasaan Hidup

Ikan gurami hidup dan berkembang biak di perairan tawar seperti danau, rawa-rawa, atau sungai tenang. Ikan gurami dapat hidup baik di daerah tropis dan pada ketinggian tempat antara 0-800 dpl. Ikan gurami menyukai perairan yang dalam, jernih dan tenang (tidak berarus deras). Ikan gurami juga dapat tumbuh dengan baik pada kondisi air yng mempunyai suhu 23o-28o C dan pH air antara 5,5-7,8.
Ikan gurami mampu menyesuaikan diri dan tumbuh dengan normal pada kondisi air yang kandungan O2 nya randah (kurang dari 3 ppm). Ikan gurami memiliki alat pernapasan tambahan yang lazim disebut Labyrinth. Dengan kelengkapan alat ini, ikan gurami mampu menghirup O2 dari udara bebas melalui mulutnya yang disembulkan ke permukaan air. Sifat ini menguntungkan sekaligus memudahkan, sebab ikn gurami dapat di pelihara dengan padat tebar tinggi.
III. PEMBENIHAN IKAN GURAMI

Untuk lebih memberikan jaminan kesuksesan dalam proses mengawinkan ikan gurami ada beberapa hal dan tahapan yang mesti diikuti. Adapaun tahapan tersebut adalah sebagai berikut :

A. Persiapan kolam Pemijahan
Untuk dapat menjadi tempat hidup sekaligus untuk melangsungkan perkembangbiakan yang disukai gurami, kolam yang disediakan untuk pemijahan harus dipersiapkan terlebih dahulu dengan baik.
1. Perbaikan Kolam
Perbaikan kolam dilakukan dalam rangka penyehatan kondisi kolam serta mengembalikan fungsi kolam sebagai wahan untuk menampung dan mengatur bahan-bahan atau substansi yang dibutuhkan seperti air, ikan, zat hara dll. Langkah-langkah untuk tujuan tersebut antara lain:
– Perbaikan pematang, dengan jalan menambal pematang yang bocor dengan tanah liat, sekaligus untuk memusnahkan sarang hama yang terdapat di sekitar pematang.
– Sarana pengairan seperti bak pengendapan, saringan atau pipa yang telah rusak diperbaiki atau diganti dengan yang baru agar air dan volume air dapat terkendali.
– Lumpur yang telah tebal di dasar kolam di buang, dan kolam tersebut di keringkan di bawah terik matahari sampai retak-retak kecil agar dasr kolam menjadi hangat dan segar.

– Dasar kolam yang tidak dapat di keringkan, ditaburi kapur 100-200 gr/m2 . Pemberian kapur ini selain untuk menaikkan pH tanah juga untuk membunuh bibit-bibit parasityang terdapat di dasar kolam.
– Kedalaman kolam harus diperbaiki agar memenuhi persyaratan yakni bagian yang terendam air antara 60-100cm.

2. Memepersiapkan sarang
Telah diketahui bersama bahwa ikan gurami dalam melakukan pemijahan selalu membangun sarang terlebih dahulu. Oleh karena itu kita perlu menyediakan tempat dan bahan-bahan yang diperlukannya untuk membuat sarang. Biasanya para pembenih menyediakan sarana-sarana yang dibutuhkan induk gurami antar lain:
 Kerangka Sarang
Kerangka sebagai tempat merajut sarang bisa di sediakan ranting-ranting pohon atau anyaman bambu berbentuk kerucut yang biasa disebut dengan sosog yang berdiameter antara 30-40 cm dan dalamnya 35 cm, dan banyaknya sosog yang dibutuhkan disesuaikan dengan banyaknya induk betina.
Sebagai patokan, penempatan kerangka atau sosog adalah ± 20-30 cm dibawah permukaan air. Jarak pemasangan antara sosog yang satu dengan sosog lainnya adalah 2-5m.
 Bahan Sarang
Bahan sarang dapat menggunakan ijuk, sabut kelapa yang di usai-usaikan atau serat tanaman lainnya. Penempatan bahan sarang biasanya di sudut-sudut kolam yang dijepit secara longgar dengan bilah bambu.

B. Memilih Induk Gurami
Untuk menghasilkan benih gurami yang baik dalam arti banyak anakan yang hidup dan mutu benih yang terjamin (sehat, normal, pertumbuhan badan seragam, bongsor), salah satu syarat utamanya adalah kualitas atau mutu indukan yang baik pula.
Bentuk badan induk yang baik adalah tidak cacat, (normal), susunan sisik teratur, bersih atau cerah, badan relatif panjang dengan bagian perut mengembung (betina), sedangkan pada jantan bagian perut dekat anus lancip dan gerakannya lincah. Warna dominan dan cerah pada betina menandakan sifat yang baik. Pada induk jantan harus bercula, warnanya kehitam-hitaman, kuat dan tangkas.
Meskipun induk gurami mulai dewasa /sipa kawin umur 2-3 tahun, para pembenih yang berpengalaman memijahkan induk gurami pada usia 4 tahun dengan berat bada sekitar 2 kg. Produksi telur ikan gurami akan menurun setelah induk gurami tersebut lebih dari 10 tahun.

C. Membedakan Jantan dan Betina
Induk jantan dan betina ikan gurami dapat dibedakan dengan tanda-tanda sebagai berikut :
Induk Gurami Jantan
• Dahi benjol ( Nongol ) seperti Cula
• Dagu Lebih Tebal
• Ujung Sirip Ekor Membundar
• Turup Insang berwarna kekuning
kuningan.
• Dasar Sirip Pectoral ( dada) berwarna lebih putih
• Perut Meruncing

Induk Gurami Betina
• Dahi lebih rata ( Tonjolan tak kentara )
• Dagu Tidak Menebal
• Ujung Sirip Ekor Rata dan lurus
• Tutup insang berwarna putih kecokelatan
• Dasar sirip pectoral ( dada ) berwarna lebih hitam
• Perut membundar .

D. Memijahkan Induk Gurami
a. Pemijahan di kolam Campuran
Pemijahan di kolam campuran ialah memijahkan ikan gurami di kolam tetentu yang di dalamnya di pelihara ikan lainnya, seperti Ikan tawes, nilm, mas, dan sebagainya. Sistem pemijahan ini memerlukan kolam yang cukup luas, misalnya untuk satu pasang induk yang “polygami (seekor jantan di jodohkan dengan dua atau lebih induk betina) memerlukan luas kolam 200-300m2. Biasanya pemijahan di kolan campuran ini dilakukan dengan lebih dari satu pasang induk.
b. Pemijahan Sistem Masal
Pada prinsipnya, pemijahan sistem masal ini tidak terlalu berbeda dengan sistem campuran, tetapi dalam system masal di dalam kolam kolam yang sama tidak terdapat ikan lain kecuali induk-induk gurami saja. Oleh karena itu penebarannya bisa lebih padat, misalnya tiap seekor betina memrlukan ruang di kolam antara 15-20m2.
Induk-induk jantan baik di dalam system campuran maupun masal, akan mencari pasangan betinanya yang siap dikawini. Kadang-kadang seekor jantan membangun dua buah sarang dalam selang waktu berdekatan. Menurut kalangan petani yang berpengalaman satu ekor pejantan gurami dapat dijodohkan dan mapu mengawini empat ekor induk betina dalam satu kali masa pemijahan, yakni sekitar 3-4 bulan.
c. Pemijahan Sistem Pasangan
Pemijahan system pasangan adalah memijahkan pasangan polygami induk gurami. Dalam satu kolam yang sama hanya dipijahkan satu pasang induk, misalnya 1 ekor jantan dan 3 ekor betina.
Padat penebaran untuk satu ekor induk gurami memrlukan ruang di kolam seluas 10-15m2. jadi untuk satu pasang yang terdiri dari 1 jantan dan 3 betina harus disediakan kolam pemijahan 40-60m2.

E. Pelaksanaan Pemijahan
Setelah induk-induk di seleksi, langkah selanjutnya adalah memasukkan induk ke kolam pemijahan. Induk-induk yang telah dimasukkan tersebut tidak langsung melakukan pemijahan, mereka membutuhkan waktu untuk mengenal daerah barudan pematangan gonad lebih lanjut. Pemijahan biasanya akan terjadi setelah 2-3 minggu sejak induk-induk tersebut dimasukkan.
Setelah induk-induk dimasukkan ke dalam kolam pemijahan, pekerjaan selanjutnya adalah memberi pakan, menjaga ketinggian air dan mengamati tanda-tanda pemijahan. Bila induk betina sudah menunggui sarangnya sambil mengipas-ngipas ekornya ke dalam sarang, itu tandanya induk-induk gurami tersebut sudah melakukan pemijahan. Bagi petani yang sudah berpengalaman akan segera mengetahui adanya pemijahan dengan merasakan bau amis disekitar kolam.

IV. PENETASAN TELUR
A. Sistem Penetasan.
Setelah induk-induk memijah, langkah selanjutnya adalah mengambil telur tersebut yang kemudian di tetaskan. Penetasan dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah:
1. Penetasan di kolam pemijahan.
Penetasan di kolam pemijahan dilakukan tanpa mengangkat induk gurami maupun sarang yang telah berisi telur. Kehadiran induk ikan gurami diperlukan untuk menjaga dan merawat larva apabila telur telah menetas nanti. Agar terlindung dari hujan dan terik matahari letakkan ranting di atas sarang tersebut. Ranting tersebut berguna sebagai tempat menempelnya larva sebelum tumbuh sempurna ( Agus G.T.K. et al, 2001 ).
Pada sistem ini, induk-induk yang dipijahkan harus secara monokultur yang bertujuan untuk menghindari telur di mangsa oleh ikan lain.
Menurut Jangkaru Z ( 2001 ) untuk memelihara larva di kolam pemijahan diperlukan waktu lebih kurang 30 hari.Cara penetasa seperti ini dianggap kurang efisien karena petani tidak bisa memakai kolam lagi untuk melakukan kegiatan pemijahan selanjutnya.
2. Penetasan di dalam wadah atau bak penetasan
Penetasan ini dilakukan dengan cara mengangkat telur dari sarangnya yang kemudian di pindahkan ke dalam bak atau wadah penetasan lain. Penetasan sistem ini sangat baik karena kemungkinan telur untuk di mangsa oleh ikan lain dapat dihindari.

B. Pemeliharaan Larva
Telur ikan gurami yang di bantu upaya penetasannya akan menetas menjadi anak-anak gurami dalam waktu 2 hari. Larva-larva yang baru menetas, posisi badannya terbalik, yaitu bagian perut berada di atas, sedangkan bagian punggungnya di bagian bawah.
Larva-larva yang baru menetas biasanya bergerombol di sekitar substrat dan gerakannya hanya berputar-putar. Kelakuan seperti ini di alaminya selama 4-5 hari, yang selanjutnya larva sudah bisa berenang normal.
Cadangan makanan anak gurami yang baru menetas terdapat di bagian perut masih terlihat besar. Organ tubuh larva bagian luar pada usia ini sudah lengkap dan terlihat transparan.
Pada umur 12 hari cadangan makanan sudah mengecil dan terlihat bening. Anak gurami sudah aktif berenang-renang dan pada beberapa bagian tubuhnya terlihat warna hitam. Menginjak usia 14 hari, sirip-siripnya sudah mekar, bentuk badan terlihat pipih sebagaimana gurami muda. Setelah tahap ini anak-anak gurami ini dapat dipelihara lebih lanjut di kolam-kolam pendederan.

semoga bermanfaat

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: