Budidaya Belut


Teknik Budidaya Belut

BELUT, binatang yang dulunya hama ini, bukanlah jenis ikan yang sulit untuk dibudidayakan. Cuma yang harus dipikirkan adalah masalah pengadaan bibit. Pemenuhan kebutuhan bibit ini, dapat diperoleh langsung dari alam atau membeli langsung dari para pemburu belut. Selain itu, para pembudidaya pun dapat langsung membeli dari tempat-tempat pembibitan.
Sebagai langkah awal, sediakan kolam peternakan. Kolam ini, tidak perlu terlalu luas tapi cukup dibangun tiap kolam 2-3 meter persegi saja, kalau anda ingin mengembangkan usaha dalam skala kecil, atau hanya sekedar ingin mencobanya sebelum kemudian usaha itu ditingkat jadi lebih besar. Sebelum kolam dipergunakan, dasar kolam sampai ke atas sebaiknya ditutup dengan plastik. Maksudnya, agar belut tidak keluar dari kolam.

Sebelum kolam diairi, kolam harus diberi pupuk kandang, sampah kompos, pupuk hijau, jerami, dan lumpur. Bahan-bahan organik ini nantinya akan menjadi sumber bahan makanan, karena plankton-plankton bisa hidup jadi subur, dan plankton inilah yang kemudian jadi makanan utamanya. Setelah diairi, kedalaman kolam peternakan harus dipertahankan sekitar 1 meter. Sedangkan ketinggian air 10 s/d 15 cm dari dasar kolam. Sehingga kolam mirip sawah. Untuk lumpur, paling dangkal harus 15 cm. Hal ini untuk media kawin belut, sebab kalau kawin belut suka menggali lubang sekitar 10 cm ke bawah.
Jika kolam peternakan sudah siap pakai, kolam yang berukuran 2 x 3 meter persegi ini dapat diisi dengan bibit belut, kira-kira untuk ukuran kolam seluas ini sekitar 6 kg. Menurut Manager Koperasi Saluyu Subang, Drs. Yudi Wahyudi, yang juga sebagai pembina pembudidaya belut, belut untuk bibit ini biasa dibeli dari para looker belut dengan harga sekitar Rp 8.000,00/kg. Belut dari para looker, ini sebelum dimasukan ke kolam peternakan disortir terlebih dahulu. Biasanya, yang dimasukan ke kolam peternakan adalah yang berukuran 15-20 cm untuk betina yang siap kawin dan sebagian yang jantan. Cincangan Pisang

Langkah selanjutnya, taruhlah pada permukaan kolam cincangan batang pisang sampai tertutup sama sekali. Manfaat cincangan batang pisang ini untuk menciptakan suasana busuk. Bau busuk ini, akan menarik serangga untuk bertelur. Nantinya, setelah telur menetas, larvanya akan menjadi makanan belut. Pokoknya, permukaan kolam harus selalu tertutup oleh cincangan gedebog pisang. Dan, lebih bagus lagi kalau sekali-kali dikasih cincangan bekicot, cacing tanah, atau bisa juga dikasih bangkai binatang. Maksudnya, untuk memberi makanan tambahan.

Masih menurut Yudi, selain memberi makanan, berbudidaya belut tidak memerlukan penanganan dan perawatan khusus. Tetapi, cukup hanya dengan mengontrol makanan dan airnya saja. Dan, salahsatu kelebihan dari ikan belut ini adalah tahan segala macam penyakit/hama. Paling-paling yang ada hanyalah hama sero dan ular. Setelah dipelihara selama 2 bulan, belut siap untuk dipanen. Belut yang dipanen, jelas Yudi, adalah belut yang memasuki masa cuti bertelur. Jadi, dari satu kolam itu tidak perlu semua belum dipanen. Dan, medianya pun tidak perlu diangkat. Dari penaburan bibit belut sebanyak 6 kg, dua bulan kemudian, akan menghasilkan belut siap konsumsi (25-30 cm) sebanyak 15 s/d 20 kg. Dan, untuk belut siap konsumsi ini diterima di pasar lokal seharga Rp 7.000,00/kg. Belut-belut serupa inilah yang paling banyak dicari konsumen. –

BUDIDAYA IKAN BELUT
( Synbranchus )

1. SEJARAH SINGKAT
Belut merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh bulat memanjang yang hanya memiliki sirip punggung dan tubuhnya licin. Belut suka memakan anak-anak ikan yang masih kecil. Biasanya hidup di sawah-sawah, di rawa-rawa/lumpur dan di kali-kali kecil. Di Indonesia sejak tahun 1979, belut mulai dikenal dan digemari, hingga saat ini belut banyak dibudidayakan dan
menjadi salah satu komoditas ekspor.
2. SENTRA PERIKANAN
Sentra perikanan belut Internasional terpusat di Taiwan, Jepang, Hongkong, Perancis dan Malaysia. Sedangkan sentra perikanan belut di Indonesia berada di daerah Yogyakarta dan di daerah Jawa Barat. Di daerah lainnya baru merupakan tempat penampungan belut-belut tangkapan dari alam atau sebagai pos penampungan.
3. JENIS
Klasifikasi belut adalah sebagai berikut:
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Synbranchoidae
Famili : Synbranchidae
Genus : Synbranchus
Species : Synbranchus bengalensis Mc clell (belut rawa); Monopterus albus Zuieuw (belut sawah); Macrotema caligans Cant (belut kali/laut).
Jadi jenis belut ada 3 (tiga) macam yaitu belut rawa, belut sawah dan belut kali/laut. Namun demikian jenis belut yang sering dijumpai adalah jenis belut sawah.
4. MANFAAT

Manfaat dari budidaya belut adalah:
1) Sebagai penyediaan sumber protein hewani.
2) Sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
3) Sebagai obat penambah darah.
5. PERSYARATAN LOKASI
1. Secara klimatologis ikan belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang spesifik. Ketinggian tempat budidaya ikan belut dapat berada di dataran rendah sampai dataran tinggi. Begitu pula dengan kelembaban dan curah hujan tidak ada batasan yang spesifik.
2. Kualitas air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kondisi tanah dasar kolam tidak beracun.
3. Suhu udara/temperatur optimal untukpertumbuhan belut yaitu berkisar antara 25-31 derajat C.
4. Pada prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih dan kaya akan osigen terutama untuk bibit/benih yang masih kecil yaitu ukuran 1-2 cm. Sedangkan untuk perkembangan selanjutnya belut dewasa tidak memilih kualitas air dan dapat hidup di air yang keruh.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
• Penyiapan Sarana dan Peralatan
o Perlu diketahui bahwa jenis kolam budidaya ikan belut harus dibedakan antara lain: kolam induk/kolam pemijahan, kolam pendederan (untuk benih belut berukuran 1-2 cm), kolam belut remaja (untuk belut ukuran 3-5 cm) dan kolam pemeliharaan belut konsumsi (terbagi menjadi 2 tahapan yang masing-masing dibutuhkan waktu 2 bulan) yaitu untuk pemeliharaan belut ukuran 5-8 cm sampai menjadi ukuran 15-20 cm dan untuk pemeliharan belut dengan ukuran 15-20 cm sampai menjadi ukuran 30-40 cm.
o Bangunan jenis-jenis kolam belut secara umum relatif sama hanya dibedakan oleh ukuran, kapasitas dan daya tampung belut itu sendiri.
o Ukuran kolam induk kapasitasnya 6 ekor/m2. Untuk kolam pendederan (ukuran belut 1-2 cm) daya tampungnya 500 ekor/m2. Untuk kolam belut remaja (ukuran 2-5 cm) daya tampungnya 250 ekor/m2. Dan untuk kolam belut konsumsi tahap pertama (ukuran 5-8 cm) daya tampungnya 100 ekor/m2. Serta kolam belut konsumsi tahap kedua (ukuran 15-20cm) daya tampungnya 50 ekor/m2, hingga panjang belut pemanenan kelak berukuran 3-50 cm.
o Pembuatan kolam belut dengan bahan bak dinding tembok/disemen dan dasar bak tidak perlu diplester.
o Peralatan lainnya berupa media dasar kolam, sumber air yang selalu ada, alat penangkapan yang diperlukan, ember plastik dan peralatan-peralatan lainnya.
o Media dasar kolam terdiri dari bahan-bahan organik seperti pupuk kandang, sekam padi dan jerami padi. Caranya kolam yang masih kosong untuk lapisan pertama diberi sekam padi setebal 10 cm, diatasnya ditimbun dengan pupuk kandang setebal 10 cm, lalu diatasnya lagi ditimbun dengan ikatan-ikatan merang atau jerami kering. Setelah tumpukan-tumpukan bahan organik selesai dibuat (tebal seluruhnya sekitar 30 cm), berulah air dialirkan kedalam kolam secara perlahan-lahan sampai setinggi 50 cm (bahan organik + air). Dengan demikian media dasar kolam sudah selesai, tinggal media tersebut dibiarkan beberapa saat agar sampai menjadi lumpur sawah. Setelah itu belut-belut diluncurkan ke dalam kolam.
• Penyiapan Bibit
o Menyiapkan Bibit
 Anak belut yang sudah siap dipelihara secara intensif adalah yang berukuran 5-8 cm. Di pelihara selama 4 bulan dalam 2 tahapan denga masing-masing tahapannya selama 2 bulan.
 Bibit bisa diperoleh dari bak/kolam pembibitan atau bisa juga bibitdiperoleh dari sarang-sarang bibit yang ada di alam.
 Pemilihan bibit bisa diperoleh dari kolam peternakan atau pemijahan. Biasanya belut yang dipijahkan adalah belut betina berukuran ± 30 cm dan belut jantan berukuran ± 40 cm.
 Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan dengan kapasitas satu ekor pejantan dengan dua ekor betina untuk kolam seluas 1 m2. Waktu pemijahan kira-kira berlangsung 10 hari baru telur-telur ikan belut menetas. Dan setelah menetas umur 5-8 hari dengan ukuran anak belut berkisar 1,5–2,5 cm. Dalam ukuran ini belut segera diambil untuk
ditempatkan di kolam pendederan calon benih/calon bibit. Anak belut dengan ukuran sedemikian tersebut diatas segera ditempatkan di kolam pendederan calon bibit selama ± 1 (satu) bulan sampai anak belut tersebut berukuran 5-8 cm. Dengan ukuran ini anak belut sudah bisa diperlihara dalam kolam belut untuk konsumsi selama dua bulan atau empat bulan.
o Perlakuan dan Perawatan Bibit; Dari hasil pemijahan anak belut ditampung di kolam pendederan calon benih selama 1 bulan. Dalam hal ini benih diperlakukan dengan secermat mungkin agar tidak banyak yang hilang. Dengan perairan yang bersih dan lebih baik lagi apabila di air yang mengalir.
 Pemeliharaan Pembesaran
1) Pemupukan Jerami yang sudah lapuk diperlukan untuk membentuk pelumpuran yang subur dan pupuk kandang juga diperlukan sebagai salah satu bahan organik utama.
2) Pemberian Pakan
Bila diperlukan bisa diberi makanan tambahan berupa cacing, kecoa, ulat besar(belatung) yang diberikan setiap 10 hari sekali.
3) Pemberian Vaksinasi
4) Pemeliharaan Kolam dan Tambak
Yang perlu diperhatikan pada pemeliharaan belut adalah menjaga kolam agar tidak ada gangguan dari luar dan dalam kolam tidak beracun.
 Hama Penyakit
1) Hama pada belut adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu
kehidupan belut.
2) Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang belut antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air dan ikan gabus.
3) Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan belut secara intensif tidak banyak diserang hama. Penyakit yang umum menyerang adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.
7. PANEN

Pemanenan belut berupa 2 jenis yaitu :
1. Berupa benih/bibit yang dijual untuk diternak/dibudidayakan.
2. Berupa hasil akhir pemeliharaan belut yang siap dijual untuk konsumsi (besarnya/panjangnya sesuai dengan permintaan pasar/konsumen). Cara Penangkapan belut sama seperti menangkap ikan lainnya dengan peralatan antara lain: bubu/posong, jaring/jala bermata lembut, dengan pancing atau kail dan pengeringan air kolam sehingga belut tinggal diambil saja.
8. PASCAPANEN
Pada pemeliharaan belut secara komersial dan dalam jumlah yang besar, penanganan pasca panen perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini agar belut dapat diterima oleh konsumen dalam kualitas yang baik, sehingga mempunyai jaringan pemasaran yang luas.
9. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA

Perkiraan analisis budidaya belut selama 3 bulan di daerah Jawa Barat pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:
1) Biaya Produksi
a. Pembuatan kolam tanah 2 x 3 x 1, 4 HOK @ Rp.7.000,- Rp. 28.000,-
b. Bibit 3.000 ekor x @ Rp. 750,- Rp. 225.000,-
c. Makanan tambahan (daging kelinci 3 ekor) @ Rp.15.000,-Rp. 45.000,-
d. Lain-lain Rp. 30.000,-
Jumlah Biaya Produksi Rp. 328.000,-

2) Pendapatan: 3000 ekor = 300 kg x @ Rp. 2.500,- Rp. 750.000,-
3) Keuntungan Rp. 422.000,-
4) Parameter Kelayakan Usaha 2,28
Gambaran Peluang Agribisnis
Budidaya ikan belut, baik dalam bentuk pembenihan maupun pembesaran mempunyai prospek yang cukup baik. Permintaan konsumen akan keberadaan ikan belut semakin meningkat. Dengan teknik pemeliharaan yang baik, maka akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: