Akhlaq yang akan Mengantarkan Kita ke Surga


Oleh: Abu Umar Al Bankawy

Di dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ الصِّدقَ يَهْدِي إِلَى البرِّ ، وإنَّ البر يَهدِي إِلَى الجَنَّةِ ، وإنَّ الرَّجُلَ لَيَصدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقاً . وَإِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفُجُورِ ، وَإِنَّ الفُجُورَ يَهدِي إِلَى النَّارِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكتَبَ عِنْدَ الله كَذَّاباً

“Sesungguhnya ash shidq (kejujuran) itu menunjukkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke surga dan sesungguhnya seorang bermaksud untuk jujur sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu menunjukkan kepada kejahatan dan sesungguhnya kejahatan itu menunjukkan kepada neraka. Sesungguhnya seorang itu bermaksud untuk berdusta sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang suka berdusta.” (Muttafaq ‘alaih)

Di dalam hadits ini terdapat perintah kepada kita untuk senantiasa berbuat ash shidq. Ash shidq artinya sesuainya berita yang disampaikan dengan kenyataan yang terjadi. Sebagai contoh, misalnya sekarang hari Ahad, lalu Anda ditanya hari apa ini? Kalau Anda menjawab hari Ahad berarti anda telah berucap dengan shidq (jujur) karena memang sesuai dengan kenyataan. Tapi bila Anda jawab hari Senin, maka ini disebut dusta.

Di banyak ayat, Allah subhanahu wata’ala mengabarkan kepada kita keutamaan Ash shidq. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai sekalian orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah engkau semua bersama-sama dengan para shiddiqin (orang-orang yang jujur perilakunya).” (At Taubah: 119)

فَلَوْ صَدَقُوا اللهَ لَكَانَ خَيْراً لَهُمْ

“Dan andaikata mereka itu bersikap benar terhadap Allah, pastilah hal itu amat baik untuk mereka sendiri.” (Muhammad: 21)

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (Az Zumar: 33)

Macam-macam Sikap Shidq

Para ulama membagi ash shidq menjadi dua:

1. Shidq (jujur) dalam Ucapan
Yakni ketika seseorang ucapannya mencocoki apa yang ada di hatinya. Seperti orang yang mengatakan bahwa saya beriman dan memang di hatinya dia beriman maka dia pun telah jujur dalam ucapannya. Sebaliknya ketika dia mengucapkan bahwa dirinya beriman, tapi di hatinya justru kufur maka ini tidak lah disebut sebagai orang yang shadiq, orang yang jujur.
Dari sini kita ketahui bahwa orang-orang yang munafiq bukanlah orang-orang yang beriman, karena ucapan mereka menyelisihi apa yang ada di hati mereka.

2. Shidq (jujur) dalam Perbuatan
Yakni ketika perbuatan seseorang mencocoki apa yang ada di hatinya. Orang yang berbuat riya’ tidaklah disebut sebagai shadiq. Ini karena secara lahirnya mereka memang nampak sebagai seorang yang rajin beribadah kepada Allah, tapi di dalam batinnya tidaklah demikian. Ibadah yang mereka lakukan semata-mata agar dilihat oleh manusia.
Demikian juga para pelaku kebid’ahan. Mereka tidaklah disebut sebagai shadiq. Karena secara lahirnya mereka menunjukkan kecintaan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan tetapi batinnya tidaklah demikian.

Pentingnya Ash shidq dalam Mua’amalah

Ash shidq dalam muamalah adalah seorang senantiasa berucap dan bersikap jujur ketika dia berhubungan dengan sesama manusia. Di dalam keluarga, ketika bekerja, berhubungan sosial dengan yang lain seorang muslim harus mengedepankan ash shidq agar dia memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat.
Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,

إنَّ الصِّدقَ يَهْدِي إِلَى البرِّ ، وإنَّ البر يَهدِي إِلَى الجَنَّةِ

“Sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan kepada surga.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Beliau juga mengatakan bahwa

البَيِّعَانِ بالخِيَار مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا ، فَإنْ صَدَقا وَبيَّنَا بُوركَ لَهُمَا في بيعِهمَا ، وإنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بركَةُ بَيعِهِما

“Dua orang yang berjual-beli itu dengan kebebasan (boleh meneruskan jual-belinya atau membatalkannya) selama keduanya itu belum berpisah. Apabila keduanya itu jujur dan menerangkan (kekurangan barang yang diperjualbelikan), maka diberi berkahlah jual-beli keduanya, tetapi jikalau keduanya itu menyembunyikan (kekurangan barang yang diperjualbelikan) dan sama-sama berdusta, maka dileburlah keberkahan jual-beli keduanya itu.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Berdusta untuk Bercanda

Termasuk kedustaan adalah apa yang dilakukan banyak orang di zaman kita, yakni berdusta dengan maksud untuk melucu atau bercanda. Dia berdusta agar orang lain yang mendengarnya tertawa. Perkara ini adalah perkara yang dilarang di dalam agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah orang yang berkata dusta agar orang-orang tertawa! Celakalah dia! Celakalah dia!” (HR. Abu Daud no. 4990, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

Dusta yang Diperbolehkan

Sebagaimana hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu di atas, seluruh kedustaan hukumnya haram dan semuanya akan mengantarkan kepada perbuatan fujur (jahat).
Dikecualikan dari sini tiga perkara sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَيْسَ الكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ فَيَنْمِي خَيراً ، أَوْ يقُولُ خَيْراً . وفي رواية مسلم زيادة ، قَالَتْ : وَلَمْ أسْمَعْهُ يُرْخِّصُ في شَيْءٍ مِمَّا يَقُولُهُ النَّاسُ إلاَّ في ثَلاثٍ ، تَعْنِي : الحَرْبَ ، وَالإِصْلاَحَ بَيْنَ النَّاسِ ، وَحَدِيثَ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ ، وَحَدِيثَ المَرْأةِ زَوْجَهَا

“Bukannya termasuk pendusta orang yang mendamaikan antara para manusia, lalu ia menyampaikan berita yang baik atau mengatakan sesuatu yang baik.”

Dalam riwayat Muslim disebutkan tambahannya bahwa Ummu Kultsum berkata,
“Saya tidak pernah mendengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang dibolehkannya berdusta dari ucapan-ucapan yang diucapkan oleh para manusia itu, melainkan dalam tiga hal yaitu di dalam peperangan, mendamaikan antara para manusia dan perkataan seorang suami kepada istrinya serta perkataan istri kepada suaminya (perkataan yang dapat memperbaiki hubungan rumah tangga).”

Namun para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kedustaan di dalam hadits ini bukanlah kedustaan murni, tapi kedustaan yang merupakan tauriyah. Tauriyah adalah seseorang mengucapkan sesuatu yang menyelisihi niat di hatinya. Ketika dia mengucapkan hal tersebut, si pendengar akan memahami berbeda dengan apa yang diinginkan oleh orang yang berucap.

Contoh tauriyah adalah apa yang dikisahkan di dalam Ash Shahih tentang ucapan Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam ketika istri beliau ingin diambil oleh raja yang zhalim. Beliau mengatakan “Ini saudariku” agar raja tersebut tidak mengambil istri beliau. Yang beliau maksud dengan saudari di sini adalah saudari fillah, saudari seagama, namun yang akan dipahami oleh orang lain bahwa saudari di sini adalah saudari kandung.

Demikian penjelasan tentang beberapa perkara yang berkaitan dengan ash shidq (kejujuran), semoga bisa bermanfaat dan Allah subhanahu wata’ala menjadikan diri kita sebagai orang-orang yang memiliki sifat ash shidq.
Wallahu ta’ala a’lam, wa shallallahu ‘ala nabiyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.

Referensi:
– Syarh Riyadhis Shalihin, Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
– Shahihul Adab wal Akhlaq, Iraqi Muhammad Hamid.

SUMBER : http://www.salafy.or.id/

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: