Akan Dijadikan Laboratorium Hutan Tropis di Nusakambangan


Selain akan dikembangkan sebagai daerah wisata, Direktorat
Penyerasian Riset dan Eksplorasi Kelautan yang mendapat dukungan
dari pakar ekologi dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga
penelitian luar negeri, berencana menjadikan Nusakambangan sebagai
laboratorium hutan tropis bertaraf internaional.
Dalam kaitan itu, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Cilacap
(Jateng) mengharapkan Departemen Hukum dan Perundang-undangan segera menyerahkan pengelolaan Pulau Nusakambangan. Pulau seluas 12.106 hektar yang terletak di selatan Kota Cilacap tersebut, selama ini di bawah pengawasan Departemen Hukum dan Perundang-undangan (sebelumnya Departemen Kehakiman), yang memanfaatkannya sebagai tempat pembinaan nara pidana (napi) kelas kakap.”Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah tahun 2001 mendatang, Nusakambangan sebaiknya segera saja diserahkan kepada Pemerintah Daerah,” ujar Bupati Cilacap Herry Tabri Karta seusai meninjau Pantai Cimiring, Nusakambangan, Rabu (26/4). Meski pengelolaan pulau tersebut diserahkan kepada Pemda, fungsi lembaga pemasyarakatan (LP) yang ada di sana tidak akan terganggu. Bahkan, katanya, pihaknya sangat mendukung apabila LP di sana juga tidak hanya dimanfaatkan untuk menampung napi pelaku kriminal, tetapi juga dimanfaatkan untuk membina pecandu narkotika dan obat-obat berbahaya (narkoba) atau mimuman keras.
Sudah disampaikan Pemda Cilacap, jelas Bupati, secara resmi sudah menyampaikan keinginan tersebut baik melalui Dirjen Pemasyarakatan maupun Gubernur Jateng. DPRD II Cilacap pun mendukung rencana Pemda, termasuk untuk mengembangkan pulau ini menjadi daerah wisata. Departeman Hukum dan Perundangan-undangan tampaknya tidak keberatan menyerahkan pengelolaan Nusakambangan kepada Pemda Cilacap. Menghadapi pelaksanaan otonomi daerah 2001, lanjut Bupati, Pemda Cilacap mau tidak mau harus bekerja keras menggali potensi daerah untuk meningkatkan pendapatan asli daerah.
“Nusakambangan mempunyai prospek bagus untuk dikembangkan menjadi daerah wisata. Sebab di sana terdapat berbagai peninggalan sejarah, berupa benteng pertahanan peninggalan Portugis dan Belanda, serta cagar alam. Pantai dan pemandangan alam di pulau ini pun sangat memikat, ” ujar Bupati.
Selain Gua Ratu yang telah dibuka untuk kunjungan wisatawan, di
pulau ini terdapat beberapa gua yang dindingnya memiliki ornamen
alam yang sangat indah. Benteng pertahanan tentara Portugis dan
Belanda terdapat di Karangbolong. Bangunan benteng yang luasnya
sekitar 6.000 meter persegi yang terletak di ujung timur Nusakambangan dan menghadap ke Samudera Indonesia, dilengkapi dengan ruang perwira, ruang jaga, gudang mesiu, dan meriam. Benteng pertahanan lain terdapat di Karangtengah. Di sana terdapat “Benteng Bundar” karena bentuk atapnya yang bulat.
Di tempat terpisah, Rektor Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Prof Rubijanto Misman mengatakan, Nusakambangan bukan hanya potensial untuk dikembangkan sebagai daerah wisata, akan tetapi juga sebagai laboratorium alam dan pusat penelitian ekologi. Bahkan banyak pakar ekologi dari berbagai perguruan tinggi terkenal dan lembaga-lembaga penelitian luar negeri tertarik untuk menjadikan kawasan Nusakambangan dan Segara Anakan sebagai laboratorium ekologi internasional.
Para pakar ekologi dari berbagai negara menilai, kawasan ini
memiliki hutan mangrove yang banyak jenisnya. Di pulau yang
panjangnya 36 km, memanjang dari ujung timur ke barat, juga masih
terdapat berbagai jenis satwa langka. Bertalian dengan hal ini, lanjut rektor, Direktorat Jenderal Penyerasian Riset dan Eksplorasi Laut, tanggal 3 Mei mendatang akan mengadakan pertemuan dengan para pakar ekologi dari dalam dan luar negeri serta pakar ekologi 13 perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian kelautan-di antaranya dari Amerika Serikat, Inggris. Jerman, Jepang, Perancis dan Australia. Pertemuan akan berlangsung di Jakarta.
Salah satu agenda pertemuan itu adalah menjajagi pendirian
International Tropical Marine Eco-sistem Center (Itmec) yang
sekaligus akan mengukuhkan Segara Anakan dan Nusakambangan sebagai laboratoriun hutan tropis, termasuk laboratorium ekosistem kelautan. Dalam kaitan ini pula, ia mendukung tuntutan dari berbagai pihak yang mendesak pemerintah agar menghentikan penambangan batu kapur di Nusakambangan untuk keperluan pabrik semen Cibinong IV.

Sumber: Kompas, 28 April 2000

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: